Bianca Andreescu: Penyesalan di Balik Kemenangan atas Serena Williams dan Harapan di Canadian Open
Baca dalam 60 detik
- Bianca Andreescu mengaku masih merasa bersalah karena mengalahkan Serena Williams di final US Open 2019, yang menghalangi Williams meraih gelar Grand Slam ke-24.
- Petenis Kanada itu kini berjuang bangkit dari cedera dan operasi usus buntu, dengan peringkat merosot ke 180 dunia, namun optimis menatap sisa musim.
- Andreescu mendapat wildcard untuk Canadian Open 2024, turnamen yang pernah ia menangkan pada 2019 setelah Williams mundur karena cedera punggung.

Hampir tujuh tahun setelah mengalahkan legenda tenis Serena Williams di final US Open 2019, Bianca Andreescu masih menyimpan rasa bersalah. Petenis asal Kanada itu mengakui bahwa kemenangan straight-set yang diraihnya saat berusia 19 tahun telah menggagalkan ambisi Williams untuk meraih gelar Grand Slam ke-24. Dalam wawancara Zoom, Rabu (8/7), Andreescu dengan canggung berujar, "Mungkin dia tidak terlalu menyukai saya. Saya tidak akan menyalahkannya."
Kemenangan di Flushing Meadows itu mengukuhkan Andreescu sebagai petenis Kanada pertama yang menjuarai Grand Slam. Namun, hubungannya dengan Williams setelah pertandingan hanya sebatas sapaan sopan. Meski demikian, Andreescu mengingat kata-kata manis Williams usai laga dan memuji kembalinya sang legenda ke kompetisi bulan lalu setelah pensiun hampir empat tahun. "Kembali di usianya jelas tidak mudah. Dia semakin menjadi pelopor," puji Andreescu.
Andreescu sendiri tengah berjuang mengembalikan performa terbaiknya. Pernah menempati peringkat ke-4 dunia, kini ia terpuruk di posisi 180 akibat serangkaian cedera dan operasi usus buntu. Musim ini ia memulai dari sirkuit ITF tingkat kedua, memenangkan gelar di Bradenton dan Vero Beach, Florida. Ia kembali ke WTA Tour pada akhir Februari, namun langkahnya terhenti di babak pertama Wimbledon. "Sekarang saya konsisten, itu memberi kepercayaan diri untuk menyelesaikan musim dengan kuat," ujarnya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Andreescu menjadi pengingat betapa kerasnya persaingan di level elit. Meski Indonesia belum memiliki petenis Grand Slam, perjuangan atlet seperti Andreescu bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Tanah Air yang bermimpi menembus panggung dunia. Turnamen seperti Canadian Open juga kerap menjadi ajang pembuktian bagi pemain yang sedang bangkit dari keterpurukan.
Andreescu berharap suatu hari bisa bertemu Williams lagi dan memberanikan diri meminta nasihat dari "legenda itu sendiri". "Dia bilang, 'Jika kau butuh bantuan, beri tahu aku.' Tapi saya belum cukup berani. Mungkin sekarang dia kembali bermain, saya punya kesempatan untuk bicara," kenang Andreescu. Canadian Open yang berlangsung 2-13 Agustus di Toronto akan menjadi panggung berikutnya bagi Andreescu untuk membuktikan bahwa masa kejayaannya belum berakhir.



