Arthur Fery, Wildcard Peringkat 114, Tembus Semifinal Wimbledon: Kisah yang Mengguncang Tenis
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris peringkat 114 dunia, Arthur Fery, menjadi wildcard pertama yang mencapai semifinal Wimbledon sejak Goran Ivanisevic pada 2001.
- Fery mengalahkan Flavio Cobolli (peringkat 10 dunia) dalam tiga set langsung, menunjukkan ketenangan luar biasa di lapangan tengah.
- Langkah Fery membuka peluang kejutan baru saat berhadapan dengan Alexander Zverev, yang baru saja menjuarai Prancis Terbuka.

Arthur Fery, pemuda 23 tahun yang masuk Wimbledon lewat jalur wildcard dan berperingkat 114 dunia, menorehkan sejarah dengan menembus semifinal turnamen Grand Slam tersebut. Ia mengalahkan Flavio Cobolli, peringkat 10 dunia dan finalis Prancis Terbuka, dalam tiga set langsung pada perempatfinal, Rabu (12/7) waktu setempat. Kemenangan ini menjadikannya wildcard pertama yang mencapai babak empat besar Wimbledon sejak Goran Ivanisevic pada 2001, sekaligus petenis berperingkat terendah yang melakukannya dalam 22 tahun terakhir.
Perjalanan Fery di Wimbledon musim ini bagaikan dongeng. Sebelum turnamen, ia belum pernah melewati putaran kedua Grand Slam dan baru tampil untuk kelima kalinya di ajang mayor. Namun, di lapangan rumput All England Club yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat ia tumbuh dewasa, ia tampil tanpa beban. "Pria yang tumbuh dekat Centre Court kini seolah memilikinya," ujar komentator BBC Andrew Cotter.
Pertandingan melawan Cobolli menjadi puncak performa Fery. Dalam waktu dua jam 14 menitโpertandingan terpendeknya di turnamen iniโia tampil dominan dan tidak memberikan celah. Cobolli, yang baru saja kalah di final Prancis Terbuka dari Alexander Zverev, tampil di bawah tekanan dan tidak mampu mengimbangi permainan agresif Fery. "Untuk seseorang yang sama sekali tidak terduga bisa melaju sejauh ini, momen itu tidak membuatnya kewalahan," komentar legenda tenis John McEnroe. "Cobolli menyerah karena apa yang dia rasakan dari sisi Fery. Itu yang paling mengejutkan saya."
Sebelumnya, Fery harus melewati jalan terjal. Ia kehilangan set pertama dalam dua laga awal, lalu membutuhkan tie-break penentuan untuk mengalahkan Zizou Bergs dan Grigor Dimitrov dalam lima set. Melawan Bergs, ia sempat tertinggal 4-1 di set kelima dan harus menjalani tiga kali time-out medis karena mimisan. Namun, mentalitasnya tidak goyah. Mantan petenis nomor satu Inggris, Tim Henman, memuji kecerdasan tenis dan pergerakan Fery. "Dia memiliki keyakinan yang kuat. Cara dia menangani tekanan di Centre Court sangat sempurna. Ketika peluang datang, dia mengambilnya," ujar Henman.
Bagi pecinta tenis Indonesia, kisah Fery mengingatkan pada kejutan-kejutan yang kerap terjadi di Wimbledon, seperti saat petenis non-unggulan melaju jauh. Namun, yang membedakan adalah latar belakang Fery yang tumbuh di dekat arena dan mendapatkan wildcard. Ini menunjukkan bahwa turnamen Grand Slam masih memberi ruang bagi pemain muda untuk bersinar, meski tanpa peringkat tinggi. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya ketahanan mental dan kepercayaan diri dalam menghadapi lawan yang lebih diunggulkan.
Di semifinal, Jumat mendatang, Fery akan berhadapan dengan Alexander Zverev, petenis peringkat tiga dunia yang baru saja memenangi gelar Grand Slam pertamanya di Prancis Terbuka. Zverev tampil dominan mengalahkan Taylor Fritz untuk mencapai semifinal Wimbledon pertamanya. Jamie Murray, juara ganda Grand Slam tujuh kali, menilai Fery memiliki faktor kejutan. "Zverev mungkin sudah melihat permainan Fery, tetapi berbeda saat berhadapan langsung. Dia tidak tahu bagaimana bola keluar dari raket Fery atau masalah yang bisa ditimbulkannya," kata Murray.
Akankah dongeng Fery berlanjut? Ataukah pengalaman dan kekuatan Zverev akan menghentikannya? Satu hal yang pasti, petenis muda ini telah membuktikan bahwa peringkat bukanlah segalanya. Dengan dukungan penuh penonton tuan rumah, ia memiliki modal berharga untuk menantang salah satu pemain terbaik dunia.



