Target Ambisius Restorasi 218 Candi Perwara Prambanan: Rampung Sebelum 2029
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menargetkan pemugaran 218 candi perwara di Kompleks Candi Prambanan selesai dalam 3โ5 tahun, dipercepat dari rencana awal 10 tahun.
- India turut serta dalam proyek ini dengan membantu restorasi 54 candi di sisi timur laut, serta mentransfer teknologi digital dan teknik anastilosis.
- Proyek ini diharapkan mendongkrak pariwisata dan nation branding Indonesia, dengan sistem zonasi agar aktivitas wisata tetap berjalan selama pemugaran.

Pemerintah Indonesia mempercepat target restorasi 218 candi perwara di Kompleks Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dari semula sepuluh tahun menjadi hanya tiga hingga lima tahun ke depan. Langkah ini diambil setelah Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi membahas proyek tersebut dalam kunjungan kenegaraan, menandai babak baru kerja sama konservasi warisan budaya antara kedua negara.
Candi perwara, bangunan pelengkap berukuran lebih kecil yang mengelilingi candi utama, sebagian besar belum dipugar. Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB) Indira Estiyanti Nurjadin mengungkapkan bahwa percepatan ini merupakan hasil dari antusiasme kedua pemimpin. โAwalnya proyek ini direncanakan selesai dalam 10 tahun, tetapi setelah diskusi dengan PM Modi, Pak Presiden mengumumkan target baru: seluruh perwara yang belum terbangun harus rampung sebelum 2029,โ ujarnya di kompleks candi, Rabu (8/7). Meski menantang, ia optimistis target tersebut dapat tercapai.
Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) Maya Watono menegaskan bahwa kunjungan Prabowo dan Modi menjadi momentum dimulainya revitalisasi dan konservasi. โIni adalah collaborative heritage partnership dengan India. Kami berharap dalam 3 hingga 5 tahun ke depan, lebih dari 200 candi tambahan berdiri di Prambanan, menjadikannya kompleks candi yang luar biasa besar,โ katanya. Menurut Maya, proyek ini tidak hanya memulihkan bangunan bersejarah, tetapi juga membuka peluang besar bagi pariwisata Indonesia. Candi Prambanan, sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, berpotensi menjadi destinasi spiritual dan warisan budaya unggulan.
Kerja sama dengan India tidak terbatas pada pendanaan. Indira menjelaskan bahwa India akan membantu pemugaran sekitar 54 candi perwara di sisi timur laut, sementara Indonesia menangani sisanya. Kolaborasi ini mencakup pertukaran pengetahuan, digitalisasi, dokumentasi, serta pemanfaatan teknologi mutakhir seperti pemindaian laser tiga dimensi, fotogrametri, dan kecerdasan buatan. โKami menggunakan teknik anastilosis, yaitu menyusun kembali bagian asli tanpa mengubah bentuk aslinya,โ imbuhnya. Tim dari Archaeological Survey of India (ASI) akan dikerahkan, sementara Kementerian Kebudayaan melalui MCB dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) memimpin pelaksanaan di lapangan.
Meski proyek restorasi berlangsung, aktivitas wisata di Candi Prambanan dipastikan tidak terganggu. Direktur Utama InJourney Destination Management Febrina Intan menyatakan bahwa operasional tetap berjalan seperti biasa dengan menerapkan sistem zonasi, serupa saat revitalisasi Candi Borobudur. โKami tidak akan menutup candi secara total. Zonasi akan diatur sesuai arahan MCB,โ ujarnya. Lokasi pasti yang ditutup untuk pemugaran masih menunggu gambar teknis pasca-penandatanganan nota kesepahaman. Febrina optimistis kunjungan wisatawan tetap lancar, karena pekerjaan konservasi dan aktivitas wisata dapat berjalan berdampingan.
Proyek ini tidak hanya bernilai arkeologis, tetapi juga strategis bagi nation branding Indonesia. Maya Watono menekankan bahwa momen kunjungan PM Modi dan Presiden Prabowo disaksikan jutaan pasang mata di seluruh dunia, memberikan eksposur besar bagi pariwisata Tanah Air. Ke depan, keberhasilan restorasi 218 candi perwara akan menjadi tolok ukur kemampuan Indonesia dalam mengelola warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Pertanyaannya, mampukah pemerintah mempertahankan momentum dan menyelesaikan proyek ambisius ini tepat waktu tanpa mengorbankan kualitas konservasi?



