Bank Sentral Nigeria Naikkan Suku Bunga SBN, Serap Dana Rp 37 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Bank Sentral Nigeria menaikkan imbal hasil surat berharga negara pada lelang pekan ini, dengan alokasi mencapai N1,1 triliun.
- Kenaikan tertinggi terjadi pada tenor 364 hari sebesar 36 bps, mencerminkan tekanan likuiditas dan strategi pengetatan moneter.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi pasar obligasi emerging market lain, termasuk Indonesia, dalam persaingan yield dan aliran modal asing.

Bank Sentral Nigeria (CBN) kembali menaikkan suku bunga acuan pada lelang Surat Berharga Negara (SBN) pekan ini, dengan total alokasi mencapai N1,1 triliun atau setara Rp 37 triliun. Langkah ini diambil di tengah tingginya permintaan investor yang mengejar imbal hasil tinggi di pasar pendapatan tetap Nigeria.
Lelang yang digelar Rabu lalu oleh Debt Management Office (DMO) atas nama otoritas moneter mencatat total permintaan sekitar N1,6 triliun. Angka ini jauh melampaui target penerbitan yang hanya N700 miliar, terdiri dari N100 miliar untuk tenor 91 hari, N100 miliar untuk 182 hari, dan N500 miliar untuk 364 hari. Kelebihan permintaan menunjukkan betapa agresifnya investor dalam memburu imbal hasil di tengah kebijakan moneter yang ketat.
Hasil lelang menunjukkan kenaikan stop rate pada tenor 91 hari sebesar 2 basis poin (bps) menjadi 16,30%, sementara tenor 364 hari melonjak 36 bps ke level 17,70%. Tenor 182 hari bertahan di 16,50%. Kenaikan ini mengindikasikan tekanan likuiditas yang masih membayangi perekonomian Nigeria, sekaligus sinyal bahwa CBN berkomitmen menjaga daya tarik aset naira.
Di pasar sekunder, pergerakan terbatas terjadi dengan aksi beli ringan di tenor menengah-panjang. Menurut CardinalStone Securities Limited, rata-rata imbal hasil Treasury Bills turun 4 bps menjadi 18,50% akibat minat beli yang selektif. Meski demikian, level imbal hasil yang masih tinggi mencerminkan ekspektasi inflasi yang belum mereda.
Kebijakan CBN ini menjadi perhatian bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kenaikan imbal hasil SBN Nigeria berpotensi mengalihkan minat investor global dari aset emerging market lain, terutama jika selisih imbal hasil (spread) melebar. Dalam konteks domestik, Bank Indonesia perlu mencermati dinamika ini agar aliran modal asing ke pasar SBN Indonesia tetap terjaga. Sejauh ini, imbal hasil SBN Indonesia tenor 10 tahun masih berkisar di 6,7-7,0%, lebih rendah dibanding Nigeria, namun stabilitas nilai tukar dan prospek inflasi menjadi faktor penentu.
Ke depan, langkah CBN diperkirakan akan berlanjut seiring target inflasi yang masih jauh dari sasaran. Pertanyaannya, seberapa jauh lagi bank sentral Nigeria akan menaikkan suku bunga sebelum investor mulai jenuh? Pasar akan mencermati lelang berikutnya untuk mengukur titik jenuh permintaan.



