Prosesi Pemakaman Khamenei Berakhir di Mashhad, Irak Berduka
Baca dalam 60 detik
- Pemakaman Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara Israel-AS berlangsung enam hari, berakhir di Mashhad pada Kamis.
- Ratusan ribu pelayat memadati kota suci Irak, Karbala dan Najaf, dalam prosesi yang menandai solidaritas Syiah lintas batas.
- Peristiwa ini berpotensi memicu ketegangan baru di Timur Tengah dan berdampak pada stabilitas pasokan energi global, termasuk Indonesia.

Prosesi pemakaman enam hari untuk pemimpin tertinggi Iran yang gugur, Ali Khamenei, mencapai puncaknya pada Kamis dengan pemakaman di kampung halamannya, Mashhad. Ribuan pelayat dari berbagai penjuru negeri dan kawasan turut mengiringi perjalanan terakhir sang ayatollah yang tewas dalam serangan udara Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari lalu.
Sebelum dimakamkan di Mashhad, jenazah Khamenei disemayamkan di kota-kota suci Irak, Karbala dan Najaf, yang menjadi pusat ziarah umat Syiah. Di Karbala, tempat suci Imam Husain, gelombang manusia memadati jalan-jalan kota, menunjukkan besarnya pengaruh Khamenei di kalangan Syiah Irak. Kehadiran massa yang luar biasa ini tidak hanya menjadi momen berkabung, tetapi juga simbol persatuan lintas batas antara Iran dan Irak dalam menghadapi tekanan eksternal.
Kematian Khamenei meninggalkan kekosongan kepemimpinan di Iran yang telah dipimpinnya selama lebih dari tiga dekade. Analis menilai transisi kekuasaan di Teheran akan menjadi ujian berat bagi stabilitas domestik, terutama di tengah sanksi ekonomi dan ketegangan dengan Barat. Sementara itu, serangan yang menewaskan Khamenei semakin memperkeruh hubungan Iran-Israel, yang sudah berada di ambang konflik terbuka.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah membawa implikasi langsung. Sebagai importir minyak mentah, lonjakan harga energi global akibat ketidakstabilan kawasan dapat membebani anggaran subsidi dan mendorong inflasi. Selain itu, Indonesia yang memiliki hubungan diplomatik dengan Iran dan Israel harus menjaga keseimbangan, terutama dalam forum-forum multilateral seperti OKI dan PBB. Kementerian Luar Negeri RI diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan resmi dalam waktu dekat.
Para pengamat memperkirakan bahwa proses suksesi di Iran akan berlangsung rumit. Dewan Ahli, yang bertugas memilih pemimpin tertinggi baru, harus menghadapi tekanan internal dari faksi konservatif dan reformis. Sementara itu, respons Israel dan AS terhadap protes massal di Iran dan Irak akan menentukan arah konflik ke depan. Pertanyaan besarnya: akankah kematian Khamenei menjadi titik balik menuju de-eskalasi, atau justru memicu perang regional yang lebih luas?



