Petenis Ukraina Kecam Keputusan IOC soal Rusia: Itu Bukan Fair Play
Baca dalam 60 detik
- Marta Kostyuk, semifinalis Wimbledon asal Ukraina, mengecam keras keputusan IOC yang mencabut sementara sanksi terhadap Komite Olimpiade Rusia.
- Ia menilai langkah tersebut mengkhianati prinsip fair play dan memberikan lampu hijau bagi atlet Rusia untuk berlaga di Olimpiade Los Angeles 2028.
- Kostyuk bertekad mengalahkan setiap lawan Rusia yang dihadapinya di Olimpiade, sembari mengaku kesulitan fokus akibat serangan rudal di dekat rumah orang tuanya.

Petenis Ukraina Marta Kostyuk melontarkan kritik pedas terhadap keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang mencabut sementara sanksi terhadap Komite Olimpiade Rusia (ROC). Langkah itu dinilainya sebagai bentuk ketidakadilan yang mencederai semangat olahraga global.
Pernyataan itu disampaikan Kostyuk usai melaju ke semifinal Wimbledon untuk pertama kalinya, Rabu (8/7/2026). Ia menundukkan petenis Italia Jasmine Paolini dengan skor 6-3, 6-2. Meski tengah berada di puncak performa, isu politik tetap membayangi pikirannya.
"Menurut saya, ini keputusan yang buruk. Sangat jauh dari prinsip fair play, tidak hanya bagi Ukraina, tetapi semua negara yang terdampak," ujar Kostyuk kepada wartawan di London. Ia menegaskan tidak setuju seratus persen dengan kebijakan IOC, namun merasa suara para penentang tak akan mengubah apa pun.
IOC secara resmi mencabut sanksi terhadap ROC pada Selasa (7/7/2026), menandai langkah awal reintegrasi Rusia ke dalam keluarga Olimpiade. ROC sebelumnya diskors pada Oktober 2023 menyusul invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai Februari 2022. Menteri Olahraga Rusia Mikhail Degtyarev menyambut baik keputusan itu dan menyebutnya sebagai jalan bagi atlet Rusia untuk kembali bertanding secara penuh.
Kostyuk mengaku belum akan mengambil langkah konkret bersama Asosiasi Tenis Dunia (WTA) hingga turnamen Wimbledon usai. "Saya yakin kami akan melakukan sesuatu. Tapi pasti tidak sebelum semifinal saya. Mungkin saya bisa bicara lebih banyak di Amerika Serikat nanti, setelah ada waktu untuk berdiskusi dengan tim, rekan sesama pemain, dan pemerintah," katanya.
Di luar lapangan, Kostyuk mengaku kesulitan menjaga fokus akibat serangan rudal yang terus menghantam Kyiv. Ia menceritakan serangan besar pekan lalu dan serangan pada Senin yang menghancurkan empat blok permukiman, hanya lima kilometer dari rumah orang tuanya. "Malam yang berat, banyak korban jiwa, termasuk anak-anak. Saya berusaha tetap waspada, tapi tidak mudah. Setiap hari berbeda, saya jalani saja," ujarnya.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat posisi negara yang konsisten mendukung perdamaian dan netralitas olahraga. Keputusan IOC yang kontroversial dapat mempengaruhi pandangan negara-negara berkembang terhadap kredibilitas lembaga olahraga internasional. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, prinsip pemisahan olahraga dari politik kembali diuji.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah atlet Rusia benar-benar berlaga di Los Angeles 2028 tanpa sanksi berarti? Atau justru gelombang protes dari Ukraina dan sekutunya akan memaksa IOC meninjau ulang keputusannya? Yang jelas, bagi Kostyuk, pertarungannya tidak hanya di atas lapangan hijau Wimbledon, tetapi juga melawan ketidakadilan yang ia yakini masih jauh dari kata selesai.



