Selebrasi Argentina di Denpasar Berujung Ricuh, Polisi Mediasi
Baca dalam 60 detik
- Keributan antarpenghuni kos di Denpasar dipicu selebrasi kemenangan Argentina atas Mesir di Piala Dunia 2026.
- Alkohol dan teguran warga menjadi pemicu utama bentrok yang mengakibatkan luka ringan pada kedua pihak.
- Polisi bersama pecalang berhasil meredakan situasi dan meminta semua pihak kembali ke kos masing-masing.

Selebrasi kemenangan Timnas Argentina yang berlangsung hingga larut malam di Denpasar, Bali, berujung ricuh antarpenghuni indekos. Peristiwa yang terjadi di Jalan Akasia XVI, Kecamatan Denpasar Timur, pada Rabu (8/7) dini hari itu dipicu oleh aksi geber motor dan teriakan yang mengganggu warga sekitar.
Keributan bermula sekitar pukul 02.20 WITA, ketika sekelompok penghuni kos yang baru pulang nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 di Tukad Badung merayakan kemenangan kontroversial Argentina melawan Mesir. Mereka menggeber motor dan berteriak "Argentina menang" di depan kos, membangunkan tetangga yang sedang tidur. Saksi berinisial SD, yang juga terlibat, mengatakan bahwa ia dan penghuni kos sebelah merasa terganggu dan keluar untuk menegur.
Teguran itu tidak diterima dengan baik. Menurut Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, pengaruh alkohol membuat sebagian orang yang ditegur emosi dan terjadi cekcok mulut. "Penyebab keributan, salah paham karena ditegur dan pengaruh alkohol. Kedua belah pihak mengalami luka lecet dan memar bagian punggung dan siku tangan," jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/7). Bentrokan sempat melibatkan baku pukul dan saling lempar batu sebelum akhirnya warga, pecalang, dan polisi datang melerai.
Polsek Denpasar Timur bersama pecalang dan aparat desa kemudian melakukan mediasi. Kedua belah pihak diminta pulang ke kamar kos masing-masing dan tidak membuat keributan lagi. "Orang-orang yang terlibat keributan dalam pengaruh alkohol dan emosi. Untuk menjaga situasi tetap kondusif karena sudah larut malam, mereka diminta pulang," ujar Gede Adi. Peristiwa ini juga terekam video dan viral di media sosial, menjadi pengingat akan dampak selebrasi berlebihan yang mengabaikan ketertiban umum.
Kemenangan Argentina sendiri memang kontroversial karena terjadi setelah keputusan wasit yang dianggap merugikan Mesir. Euforia suporter Argentina kerap meluap-luap, namun di Indonesia, di mana Piala Dunia 2026 disiarkan langsung dan banyak digelar nobar, insiden seperti ini menunjukkan pentingnya toleransi dan pengendalian diri. Polisi mengimbau agar suporter tidak merayakan kemenangan dengan cara yang mengganggu lingkungan sekitar, terutama di malam hari.
Ke depan, aparat setempat akan meningkatkan patroli di area indekos selama Piala Dunia berlangsung. Pertanyaannya, akankah kesadaran suporter untuk merayakan secara tertib meningkat, atau justru insiden serupa akan terulang saat laga-laga krusial lainnya?



