Cedera Onana Paksa Aston Villa Berburu Gelandang, Mandela Keita Jadi Target
Baca dalam 60 detik
- Aston Villa terpaksa mencari pengganti setelah Amadou Onana mengalami cedera ACL yang membuatnya absen panjang.
- Mandela Keita, gelandang bertahan Parma berusia 24 tahun, menjadi incaran utama dengan banderol £26 juta.
- Villa harus bersaing dengan Everton dan Leeds United untuk mendapatkan tanda tangan pemain asal Belgia itu.

Cedera ligamen anterior (ACL) yang dialami Amadou Onana saat membela Belgia di Piala Dunia memaksa Aston Villa bergerak cepat di bursa transfer. Manajer Unai Emery kini menjadikan rekrutan gelandang sebagai prioritas utama, dan nama Mandela Keita muncul sebagai kandidat terdepan.
Onana mengalami cedera parah pada laga 16 besar Belgia melawan Amerika Serikat, yang dipastikan membuatnya absen hampir sepanjang musim 2025/26. Sebelum insiden itu, Villa merasa cukup dengan kedalaman lini tengah mereka. Namun, situasi berubah drastis. Klub asal Birmingham itu kini harus berburu pengganti di tengah persaingan ketat dengan Everton dan Leeds United.
Mandela Keita, gelandang bertahan Parma asal Belgia, menjadi sorotan utama. Pemain berusia 24 tahun itu tampil impresif di Serie A musim lalu dengan 40 penampilan. Statistik defensifnya menonjol: hanya 11 gelandang di Serie A yang mencatat lebih banyak recovery (153) dibanding Keita. Gaya bermainnya yang disiplin dan kemampuannya membaca permainan membuatnya cocok sebagai pengganti Onana.
Yang menarik, harga Keita tergolong murah. Parma hanya membanderolnya sekitar £26 juta—angka yang terjangkau bagi Villa yang masih berjuang dengan aturan Financial Fair Play. Nilai ini juga menjadi keunggulan dibanding target lain seperti Lamine Camara yang mungkin lebih mahal.
Persaingan merebut Keita diprediksi memanas. Everton disebut-sebut sudah memulai negosiasi dengan Parma, namun Villa berpotensi membajak kesepakatan tersebut. Keunggulan Villa adalah kebutuhan mendesak setelah cedera Onana, plus daya tarik bermain di Liga Champions musim depan. Bagi Everton, kehilangan Keita bisa menjadi pukulan telak karena mereka juga membutuhkan gelandang bertahan.
Dari sudut pandang taktis, Keita menawarkan profil yang mirip dengan Onana. Keduanya sama-sama kuat dalam duel dan transisi, dengan Keita bahkan unggul dalam jumlah recovery per pertandingan. Pelatih Unai Emery dikenal gemar memiliki gelandang bertahan yang mobile dan cerdas dalam mengatur ritme—kualitas yang dimiliki Keita.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pergerakan Villa ini menarik untuk diikuti. Klub Premier League semakin agresif di bursa tengah musim, dan strategi mereka bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Liga 1 yang kerap kesulitan mempertahankan pemain kunci saat cedera. Selain itu, persaingan Villa vs Everton mengingatkan pada rivalitas sengit di papan tengah Premier League yang kerap berimbas pada bursa transfer.
Jika Villa berhasil mengamankan Keita, mereka tidak hanya mendapatkan solusi jangka pendek, tetapi juga investasi jangka panjang. Di usia 24 tahun, Keita masih memiliki potensi berkembang pesat di bawah arahan Emery. Pertanyaannya, akankah Everton membiarkan Villa merebut target utama mereka? Atau justru Leeds yang menjadi kuda hitam?



