Megawati ke Timor Leste untuk Terima Penghargaan Tertinggi Grand Collar
Baca dalam 60 detik
- Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri tiba di Dili, Timor Leste, untuk menerima penghargaan Grand Collar of Timor Leste atas perannya dalam rekonsiliasi bilateral.
- Kunjungan resmi hingga 10 Juli 2026 ini disambut langsung Presiden Jose Ramos-Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao, serta ribuan pelajar yang mengibarkan bendera kedua negara.
- Penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas langkah Megawati pada 2002 saat menghadiri kemerdekaan Timor Leste sebagai presiden RI, yang membuka jalan rekonsiliasi.

Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memulai kunjungan resmi ke Timor Leste pada Rabu (8/7) dengan agenda utama menerima anugerah kenegaraan tertinggi, Grand Collar of Timor Leste. Penghargaan ini diberikan atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan bilateral dan mendorong rekonsiliasi antara kedua negara yang sempat diwarnai konflik.
Megawati tiba di Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato, Dili, pukul 16.10 waktu setempat. Ia disambut oleh sejumlah pejabat tinggi Timor Leste, termasuk Wakil Perdana Menteri Francisco Kalbuadi Lay, Direktur Jenderal Protokol Kementerian Luar Negeri Josefina Tilman, serta Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Timor Leste Mardiana Warnares. Prosesi penyambutan berlangsung khidmat dengan karpet merah dan pengawalan pasukan tradisional Moradores dari Casa Militar Kepresidenan Timor Leste.
Setelah melewati barisan kehormatan, Megawati bersalaman dengan Presiden Jose Ramos-Horta, Perdana Menteri Rala Xanana Gusmao, Menteri Luar Negeri Bendito dos Santos Freitas, dan Kepala Staf Kepresidenan Henriqueta M. da Silva. Sambutan hangat juga datang dari ribuan pelajar Timor Leste yang berbaris di sepanjang jalan dari bandara menuju tempat penginapan, mengibarkan bendera Indonesia dan Timor Leste dengan antusias.
Kunjungan yang berlangsung hingga 10 Juli 2026 ini tidak hanya diisi dengan seremoni penghargaan. Megawati dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral dengan Ramos-Horta dan Xanana Gusmao, serta mengunjungi situs-situs bersejarah. Rombongan Megawati didampingi oleh anggota keluarga, seperti Puti Guntur Soekarnoputri dan Romy Soekarno, serta jajaran elite PDIP, termasuk Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP Bintang Puspayoga. Turut hadir pula Ketua DPP PDIP Andreas H. Pareira, Ahmad Basarah, dan Andi Widjajanto.
Penghargaan Grand Collar of Timor Leste dinilai sebagai simbol pengakuan atas peran Megawati dalam membuka jalan rekonsiliasi. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan bahwa penghargaan ini diberikan atas jasa Megawati saat mengunjungi Timor Leste pada 20 Mei 2002, ketika ia menjadi presiden RI dan menghadiri peringatan hari kemerdekaan negara tersebut. Langkah itu dinilai sebagai titik balik yang mempercepat proses rekonsiliasi pasca-referendum 1999.
Kunjungan ini juga memiliki dimensi strategis bagi hubungan bilateral. Timor Leste merupakan tetangga dekat Indonesia dengan ikatan sejarah dan budaya yang kuat. Penganugerahan penghargaan tertinggi kepada tokoh Indonesia menunjukkan eratnya hubungan kedua negara di level kepala negara. Selain itu, momen ini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra utama Timor Leste dalam berbagai bidang, termasuk investasi dan perdagangan.
Kehadiran Megawati di Timor Leste juga menjadi sorotan di tengah dinamika politik domestik Indonesia. Sebagai ketua umum partai pemenang pemilu, langkah ini dapat dibaca sebagai upaya memperkuat citra kepemimpinan Megawati di kancah internasional. Namun, di luar itu, penghargaan ini merupakan pengakuan objektif atas kontribusi nyata dalam perdamaian dan rekonsiliasi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana hubungan Indonesia-Timor Leste akan berkembang setelah momen ini. Apakah akan ada percepatan kerja sama ekonomi atau penyelesaian isu-isu perbatasan yang masih tersisa? Kunjungan Megawati setidaknya memberikan sinyal positif bahwa kedua negara berkomitmen untuk terus mempererat tali persaudaraan.



