Argentina Dituding Dapat Perlakuan Istimewa di Piala Dunia 2026: Mitos atau Fakta?
Baca dalam 60 detik
- Mesir secara resmi meminta FIFA mencoret wasit yang memimpin laga melawan Argentina setelah kalah 3-2 di babak 16 besar, dengan tuduhan bias terhadap Lionel Messi.
- Analisis data menunjukkan Argentina mendapat kartu kuning lebih jarang per pelanggaran dibanding tim lain, serta mendapat jalur termudah ke semifinal berdasarkan peringkat FIFA lawan.
- Kontroversi juga menyoroti insiden Messi yang lolos dari kartu merah untuk tekel keras, sementara pemain lain dihukum untuk pelanggaran serupa.

Kekalahan dramatis Mesir dari Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026 menyisakan luka yang tak kunjung sembuh—bukan hanya karena gol kemenangan di masa injury time, tetapi juga karena kecurigaan mendalam terhadap integritas pertandingan. Federasi Sepak Bola Mesir secara resmi meminta FIFA untuk mengeluarkan tim wasit asal Prancis yang dipimpin Francois Letexier dari turnamen, menuduh adanya standar ganda dan keberpihakan terhadap juara bertahan Argentina serta megabintangnya, Lionel Messi.
Dalam pernyataan yang disampaikan pelatih Hossam Hassan, Mesir merasa menjadi korban ketidakadilan. "Mungkin mereka ingin menjaga juara dunia tetap bertahan. Mungkin mereka ingin Messi terus berlaga," ujar Hassan setelah pertandingan. Tuduhan ini bukan sekadar kekalahan biasa—Mesir unggul 2-0 hingga 11 menit sebelum laga usai, namun Argentina bangkit dan mencetak tiga gol, termasuk gol penentu di masa tambahan waktu. Dua momen krusial menjadi sorotan: gol Mostafa Zico yang dianulir VAR karena pelanggaran di awal serangan, serta dua insiden penalti yang tidak diberikan untuk Mesir sebelum gol kemenangan Argentina.
Meski kontroversial, klaim konspirasi ini perlu diuji dengan data. BBC Sport menganalisis sejumlah aspek yang memicu persepsi perlakuan istimewa bagi Argentina. Mulai dari statistik disiplin pemain, jalur pertandingan, hingga keputusan kontroversial yang melibatkan Messi.
Salah satu insiden paling mencolok terjadi di awal turnamen, ketika Messi melakukan tekel keras terhadap kapten Aljazair, Aissa Mandi, tanpa mendapat kartu. Beberapa hari kemudian, pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun, mendapat kartu merah untuk pelanggaran serupa terhadap pemain Bosnia. Jika Messi dihukum, ia akan absen di lima gol yang telah dicetaknya—termasuk dua gol melawan Aljazair dan dua melawan Austria. Perbedaan perlakuan ini memicu pertanyaan apakah FIFA melindungi pemain bintangnya.
FIFA juga membuat perubahan kecil namun signifikan pada undian Piala Dunia: empat tim teratas peringkat FIFA ditempatkan di kuarter yang terpisah, sehingga mereka tidak bisa bertemu sebelum semifinal. Hasilnya, Argentina mendapat jalur paling ringan: setelah melewati Cape Verde dan Mesir, mereka hanya perlu mengalahkan Swiss (peringkat 19) untuk mencapai semifinal. Sementara itu, Prancis harus melewati Maroko (7), Spanyol berhadapan dengan Belgia (9), dan Inggris—meski jalurnya juga relatif mudah—harus mengalahkan Meksiko (14) di kandang lawan.
Persepsi semakin buruk ketika wasit asal Argentina, Facundo Tello, ditunjuk untuk memimpin semifinal antara Prancis dan Maroko. Ini adalah pertama kalinya di Piala Dunia ini seluruh ofisial lapangan berasal dari satu negara—dan negara tersebut adalah Argentina, yang tentu berkepentingan agar Prancis tersingkir. Meskipun integritas wasit profesional tidak perlu diragukan, penunjukan ini dianggap tidak sensitif.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kontroversi ini mengingatkan pada dinamika kekuasaan dalam sepak bola global. Dominasi negara-negara besar sering kali menimbulkan kecurigaan, terutama ketika keputusan penting menguntungkan tim-tim unggulan. Pertanyaan yang tersisa: apakah FIFA akan melakukan evaluasi transparan terhadap sistem perwasitan dan undian, atau justru mengabaikan kritik demi melindungi citra turnamen?



