Nigeria Targetkan Konsumsi Gas Tembus 15 Miliar Kaki Kubik per Hari pada 2030
Baca dalam 60 detik
- Nigeria memproyeksikan permintaan gas mencapai 15 miliar kaki kubik per hari pada 2030, didorong konsumsi domestik dan ekspor.
- Cadangan gas terbukti Nigeria naik menjadi 215 triliun kaki kubik, dengan produksi harian mendekati 7,87 miliar kaki kubik.
- Lebih dari 20 proyek gas baru akan menambah 4,6 miliar kaki kubik per hari, mendukung target produksi 12 miliar kaki kubik.

Nigeria optimistis kebutuhan gas bumi dalam negeri dan ekspor akan melonjak hingga 15 miliar kaki kubik standar (bscf) per hari pada tahun 2030. Proyeksi ini disampaikan oleh Inisiatif Dekade Gas (Decade of Gas Initiative) dalam ajang Nigeria Oil and Gas (NOG) Energy Week di Abuja.
Direktur Koordinator inisiatif tersebut, Ed Ubong, mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan akan dipicu oleh meningkatnya konsumsi domestik dan peluang ekspor yang kian terbuka. Menurut Ubong, ekspor gas Nigeria telah pulih ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir, sementara pasokan gas domestik sudah melampaui 2 bscf per hari.
Cadangan gas terbukti Nigeria saat ini mencapai sekitar 215 triliun kaki kubik (tcf), dengan produksi harian mendekati 7,87 bscf. Di sisi lain, praktik pembakaran gas (flaring) terus menurun. Ubong menilai capaian ini menunjukkan progres menuju target produksi pemerintah federal pada 2030.
Sejumlah proyek infrastruktur gas tengah digarap untuk memperkuat transmisi dan integrasi regional. Di antaranya adalah pipa OB3 yang telah rampung, stasiun kompresor, pipa Ajaokuta-Kaduna-Kano (AKK), serta Pipa Gas Atlantik Afrika. Ubong menyebut proyek-proyek ini akan membuka pasar baru dan memperluas konektivitas gas antarnegara.
โLebih dari 20 proyek gas diperkirakan akan menambah sekitar 4,6 bscf per hari ke produksi saat ini, sehingga Nigeria mampu memenuhi target produksi harian 12 bscf,โ ujar Ubong. Ia menambahkan bahwa pencapaian target tersebut membutuhkan kerangka harga yang mendorong investasi, namun tetap menjaga keterjangkauan bagi konsumen dan daya saing ekspor.
Pemerintah Nigeria juga berencana mendistribusikan lima juta tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) kepada perempuan pedesaan pada 2030. Langkah ini merupakan bagian dari upaya memperluas adopsi energi bersih untuk memasak, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar tradisional.
Bagi Indonesia, perkembangan industri gas Nigeria menjadi cerminan penting. Sebagai sesama negara produsen gas, Indonesia juga tengah mendorong peningkatan konsumsi domestik dan pengembangan infrastruktur gas. Target Nigeria untuk menekan flaring dan memperluas akses LPG sejalan dengan program konversi minyak tanah ke LPG yang pernah dijalankan Indonesia. Keberhasilan Nigeria dalam menarik investasi proyek gas dapat menjadi pelajaran berharga, terutama dalam hal kebijakan harga dan integrasi pasar regional.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Nigeria mampu merealisasikan target ambisiusnya di tengah tantangan pendanaan dan fluktuasi harga energi global. Jika berhasil, Nigeria tidak hanya akan memperkuat posisinya sebagai pemasok gas utama di Afrika, tetapi juga berkontribusi pada transisi energi yang lebih bersih di kawasan.



