Dalic Pamit dari Timnas Kroasia: Akhir Era Emas Sepak Bola Balkan
Baca dalam 60 detik
- Zlatko Dalic mundur sebagai pelatih Kroasia setelah sembilan tahun, meninggalkan warisan final Piala Dunia 2018 dan peringkat ketiga 2022.
- Keputusan ini menandai berakhirnya era emas yang dipimpin Luka Modric, yang kemungkinan juga telah memainkan turnamen besar terakhirnya.
- Kroasia kini menghadapi transisi generasi, dengan tantangan mempertahankan daya saing di level tertinggi tanpa figur sentral.

Zlatko Dalic resmi mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih kepala tim nasional Kroasia setelah hampir satu dekade memimpin. Keputusan itu diumumkan Federasi Sepak Bola Kroasia (HNS) tak lama setelah kekalahan 0-1 dari Portugal di babak 16 besar Piala Dunia 2026, yang sekaligus menjadi laga perpisahan sang arsitek berusia 59 tahun.
Dalic mengambil alih kursi pelatih pada 2017 di tengah situasi kritis. Saat itu Kroasia nyaris gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Namun, dalam waktu singkat ia membangun skuad yang solid dan membawa Vatreni melaju hingga final turnamen di Rusia, hanya kalah dari Prancis. Pencapaian itu menjadi puncak karier Dalic sekaligus prestasi terbaik Kroasia sejak merdeka. Empat tahun kemudian, ia kembali mengukir sejarah dengan merebut perunggu di Qatar 2022.
Meski sukses di panggung dunia, performa Kroasia di turnamen Eropa kurang konsisten. Mereka tersingkir di babak 16 besar Euro 2020 (yang digelar 2021) dan gagal lolos dari fase grup Euro 2024. Namun, Dalic tetap membuktikan kualitasnya dengan membawa Kroasia menjadi runner-up Nations League 2023, mengalahkan Belanda dan Spanyol sebelum takluk dari Prancis di final.
Dalam pernyataan resmi HNS, Dalic disebut telah memutuskan untuk menutup babak yang "sangat sukses" bersama Kroasia. Federasi pun mengucapkan terima kasih atas segala kemenangan, prestasi, tiket lolos turnamen, medali, persatuan, rasa hormat, dan komitmen tanpa henti yang ditunjukkannya. "Pelatih kepala, terima kasih untuk segalanya," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Kepergian Dalic membuka era baru bagi Kroasia. Kapten Luka Modric yang kini berusia 40 tahun juga dipastikan tak akan tampil di turnamen besar berikutnya. Ini berarti Kroasia harus mencari suksesor baik di kursi pelatih maupun di lapangan tengah yang selama ini menjadi denyut nadi permainan mereka. Generasi emas yang terdiri dari Modric, Ivan Rakitic, Mario Mandzukic, dan Dejan Lovren perlahan mulai memudar.
Bagi pengamat sepak bola, tantangan terbesar Kroasia ke depan adalah regenerasi. Negara berpenduduk sekitar 4 juta jiwa ini telah lama mengandalkan talenta-talenta luar biasa yang lahir dari sistem pembinaan yang solid. Namun, tanpa figur sentral seperti Dalic yang mampu menyatukan ruang ganti dan Modric yang menjadi motor permainan, Kroasia harus menemukan identitas baru. Pertanyaan besarnya: mampukah Kroasia tetap bersaing di level elite Eropa dan dunia tanpa dua pilar utama tersebut?



