Efisiensi Dana Murah BRI: CASA Tembus Rp1.058,6 Triliun, Biaya Dana Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Rasio CASA BRI mencapai 68,07% dari total DPK, tertinggi dalam sejarah perseroan, menekan cost of fund hingga 65 basis poin.
- Transformasi digital melalui BRImo dan QLola menjadi motor utama peningkatan dana murah, memperkuat profitabilitas di tengah tekanan ekonomi.
- Keberhasilan ini menjadi tolok ukur bagi BUMN lain di bawah Danantara dalam mengelola efisiensi pendanaan dan tata kelola.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berhasil menekan biaya dana hingga 65 basis poin menjadi 2,33% pada kuartal I 2026, seiring dominasi dana murah (CASA) yang mencapai Rp1.058,6 triliun atau 68,07% dari total Dana Pihak Ketiga. Capaian ini menjadi bukti transformasi bisnis yang berfokus pada efisiensi struktur pendanaan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Hingga Maret 2026, BRI menghimpun DPK sebesar Rp1.555,1 triliun, tumbuh 9,4% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, porsi CASA meningkat signifikan dibandingkan 65,77% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menekankan bahwa peningkatan dana murah ini didorong oleh volume transaksi digital yang tinggi melalui kanal seperti BRImo, QLola by BRI, dan QRIS BRI. "Peningkatan CASA memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya dana dan kualitas struktur pendanaan Perseroan," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).
Efisiensi pendanaan ini turut menopang kinerja keuangan BRI secara keseluruhan. Total aset BRI Group mencapai Rp2.250 triliun, tumbuh 7,2% yoy, sementara penyaluran kredit dan pembiayaan melonjak 13,7% menjadi Rp1.562 triliun. Laba bersih konsolidasian pun meningkat 13,7% menjadi Rp15,5 triliun. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pengelolaan biaya dana yang lebih rendah memberikan ruang bagi bank untuk menjaga profitabilitas sekaligus mendorong ekspansi kredit.
Keberhasilan BRI dalam menekan cost of fund tidak lepas dari peran Danantara, induk holding BUMN yang mendorong transformasi fundamental di perusahaan-perusahaan pelat merah. Chief Operating Officer BPI Danantara Indonesia Dony Oskaria menyatakan bahwa Danantara berkomitmen memastikan BUMN tidak hanya tumbuh dari sisi skala, tetapi juga sehat dalam tata kelola, efisiensi, dan manajemen risiko. "Hanya perusahaan yang dikelola dengan baik yang dapat sustain di masa depan," tegasnya.
Bagi investor dan pelaku pasar, pencapaian BRI ini menjadi sinyal positif bahwa bank BUMN mampu beradaptasi dengan dinamika suku bunga dan persaingan likuiditas. Dengan CASA yang mendominasi, BRI memiliki keunggulan biaya pendanaan yang lebih kompetitif dibandingkan bank lain yang masih bergantung pada deposito berbiaya tinggi. Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah BRI dapat mempertahankan momentum ini di tengah potensi kenaikan suku bunga acuan dan perlambatan ekonomi global.



