Bima Arya: Tata Ruang Terkendali Kunci Kepri Garap Potensi Ekonomi dan Pariwisata
Baca dalam 60 detik
- Wamendagri Bima Arya menekankan tata ruang yang terencana sebagai syarat optimalisasi potensi Kepri yang sebagian besar perairan.
- Empat tantangan utama Kepri: degradasi lingkungan, bencana, konflik lahan, dan urbanisasi Batam, perlu dijawab dengan regulasi daerah yang sinkron.
- Kepri didorong mengembangkan sport tourism dan museum bahasa di Pulau Penyengat untuk memperkuat sektor pariwisata berbasis sejarah.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa penataan ruang yang terkendali menjadi prasyarat utama bagi Kepulauan Riau untuk mengoptimalkan potensi ekonomi, pariwisata, dan budaya yang dimilikinya. Pernyataan itu disampaikan dalam kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR RI di Batam, Rabu (8/7), yang membahas peran gubernur sebagai wakil pemerintah pusat dalam program prioritas nasional serta sektor pertanahan dan tata ruang.
Menurut Bima, Kepri menghadapi dilema geografis: wilayahnya didominasi perairan, sementara daratan yang terbatas harus dimanfaatkan secara optimal. Potensi besar di sektor manufaktur, perdagangan, kemaritiman, sumber daya alam, dan pariwisata sejarah hanya bisa direalisasikan jika tata ruang dikelola secara terpadu. "Tentu tata ruangnya harus kita pastikan bisa terkendali, dan kita garap bersama-sama menjadi sumber pendapatan daerah," ujarnya.
Bima mengidentifikasi empat tantangan utama yang harus diantisipasi pemerintah daerah: degradasi lingkungan, kerentanan terhadap bencana, konflik tata ruang, serta tingginya arus masuk penduduk, khususnya di Batam. Kondisi ini menuntut harmonisasi antara peraturan daerah dan kebijakan pusat. Kemendagri bersama Komisi II DPR berkomitmen memastikan setiap Perda terkait APBD mempertimbangkan potensi dan tantangan tersebut agar regulasi tidak tumpang tindih.
Selain aspek ekonomi, Bima menyoroti nilai historis dan budaya Kepri yang unik. Pulau Penyengat, sebagai pusat Kerajaan Riau sejak abad ke-19, menjadi saksi lahirnya tokoh sastra Raja Ali Hajiโpenyusun pedoman bahasa Indonesia dan penulis Gurindam Dua Belas. Pemerintah Provinsi Kepri berencana membangun museum bahasa di pulau tersebut untuk memperkuat daya tarik wisata sejarah. "Daerah ini pusat kebudayaan Melayu. Kemendagri bersama ATR/BPN dan Kementerian Pariwisata akan mendukung," ungkap Bima.
Di sisi lain, Bima mendorong pengembangan sport tourism di Batam dan daerah lain di Kepri. Menurutnya, ajang olahraga seperti triathlon dan maraton berpotensi menarik wisatawan nasional dan internasional, sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah. "Saya yakin, kalau Batam, Kepri, ini sport tourism, ada triathlon, nanti ada bintang maraton. Ini akan luar biasa," tandasnya.
Acara tersebut turut dihadiri Ketua Komisi II DPR Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan, Gubernur Kepri Ansar Ahmad, serta jajaran Forkopimda. Ke depan, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam penataan ruang akan menjadi penentu apakah Kepri mampu bertransformasi dari sekadar wilayah kepulauan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata yang berkelanjutan.



