Bo Derek: Saya Tak Pernah Bercita-cita Jadi Artis, Hidup Tenang di Pensiun Lebih Berharga
Baca dalam 60 detik
- Bintang film '10' itu mengaku perannya di tahun 1979 hanyalah kebetulan dan ia selalu merasa seperti penipu di industri hiburan.
- Bo Derek memilih hidup tenang di Santa Barbara bersama suami, tanpa menyesali keputusan mundur dari sorotan kamera.
- Ia juga blak-blakan soal keputusan tidak memiliki anak, menilai dirinya dan mantan suami tidak cocok menjadi orang tua.

Bo Derek, aktris yang namanya melambung lewat film 10 pada 1979, mengaku tidak pernah memiliki ambisi menjadi bintang. Dalam wawancara terbaru di podcast Club Random, perempuan 69 tahun itu menyebut popularitas yang ia raih justru membuatnya tidak nyaman dan merasa seperti impostor.
"Saya tidak punya aspirasi untuk berada di film. Peran di '10' murni kebetulan—saya tidak punya agen, manajer, atau fantasi tentang dunia akting," ujar Bo Derek, yang nama aslinya Mary Cathleen Collins. Ia menambahkan bahwa dirinya selalu canggung melihat wajahnya menghiasi majalah di mana-mana, sementara ia merasa tidak pantas disebut aktris karena jarang bekerja.
Fenomena ini, menurut pengamat budaya pop, menunjukkan sisi lain dari industri hiburan yang seringkali hanya menonjolkan gemerlap ketenaran. Banyak orang rela melakukan apa pun demi terkenal, namun tidak sedikit yang justru merasa terbebani oleh sorotan publik. Bo Derek adalah contoh langka figur publik yang secara sadar memilih mundur dari pusaran popularitas.
Keputusan Bo Derek untuk tidak mengejar popularitas kontras dengan budaya selebritas modern yang kerap mengejar eksposur tanpa henti. Di Indonesia, fenomena serupa juga terlihat—beberapa publik figur memilih mengurangi aktivitas di media sosial atau bahkan pensiun dini demi kesehatan mental. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Hildayani, menilai bahwa tekanan untuk selalu tampil sempurna di depan publik bisa menjadi beban berat. "Tidak semua orang siap dengan konsekuensi ketenaran. Keputusan Bo Derek untuk mundur justru menunjukkan kematangan emosional," ujarnya.
Bo Derek juga blak-blakan soal keputusan tidak memiliki anak. Ia mengaku sempat mempertimbangkan memiliki buah hati di usia 32 tahun, namun akhirnya menyadari bahwa dirinya bukan "bahan ibu". "Suami saya saat itu, John Derek, juga bukan bahan ayah. Ia pria paling judgmental yang pernah saya kenal. Saya bahkan lebih hati-hati memilih anjing baru daripada kebanyakan orang memutuskan punya anak," katanya.
Kini, di usia senjanya, Bo Derek menikmati masa pensiun. "Saya tidak merindukan apa pun. Saya bahagia. Tidak perlu kembali bekerja," ucapnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu identik dengan popularitas atau pencapaian karier.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: akankah tren mundur dari sorotan publik semakin banyak diikuti oleh selebritas yang lelah dengan tekanan industri hiburan? Atau justru budaya digital yang semakin masif akan membuat pilihan seperti Bo Derek semakin langka?



