Jonathan David Bertahan di Juventus: Antara Gaji Fantastis dan Ketidakcocokan Taktik
Baca dalam 60 detik
- Striker Kanada Jonathan David hanya mencetak enam gol di Serie A musim lalu, jauh dari ekspektasi setelah bergabung gratis dari Lille.
- Pelatih Luciano Spalletti menginginkan penyerang bertipe fisik, sementara David dianggap tidak cocok sebagai ujung tombak tunggal.
- Gaji David yang mencapai โฌ6 juta per tahun menjadi penghalang bagi Juventus untuk mendatangkan striker baru, membuka peluangnya bertahan.

Jonathan David harus membuktikan diri di hadapan Luciano Spalletti jika ingin bertahan di Juventus pada musim 2026-27. Striker asal Kanada itu gagal memenuhi ekspektasi di musim perdananya di Turin, hanya mencetak enam gol dari 35 penampilan Serie A โ rekor terburuk sepanjang kariernya.
Kedatangan David pada bursa transfer bebas 2025 sempat disambut antusias. Namun, performa di lapangan tak sepadan. Ia kesulitan beradaptasi dengan skema permainan Si Nyonya Tua, terutama saat dimainkan sebagai penyerang tunggal. Postur tubuh yang kurang ideal untuk duel fisik kerap menjadi sorotan.
Kegagalan David menembus dua digit gol untuk pertama kalinya memicu spekulasi bahwa ia tak betah di Italia. Pada Desember lalu, Spalletti bahkan harus membela pemainnya di depan media, membantah isu bahwa David kesulitan bersosialisasi dengan rekan setim.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, David tetap ingin membuktikan diri dan menolak menyerah setelah hanya satu musim. Namun, meyakinkan Spalletti bukan perkara mudah. Pelatih asal Italia itu dikabarkan menginginkan striker dengan fisik lebih kuat untuk menjadi ujung tombak utama.
Juventus sendiri tengah aktif memburu penyerang baru. Randal Kolo Muani dari PSG menjadi target utama, sementara Jeff Ekhator yang diboyong dari Genoa dianggap sebagai investasi jangka panjang. Kehadiran dua nama ini makin mempersempit ruang David di skuad utama.
Masalah lain adalah gaji David yang mencapai โฌ6 juta per musim. Angka tersebut membuat klub kesulitan mendatangkan striker baru tanpa terlebih dahulu melepas sang pemain. Hingga kini belum ada tawaran konkret untuk David, sehingga kemungkinan ia tetap berseragam hitam-putih pada musim depan masih terbuka.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus David mengingatkan pada perjuangan pemain Asia atau Amerika yang kerap kesulitan beradaptasi di liga Eropa karena perbedaan fisik dan taktik. Jika David mampu bangkit, ia bisa menjadi inspirasi bagi pemain dari kawasan non-Eropa untuk tidak mudah menyerah meski awal karier terasa berat.
Pertanyaan besarnya: akankah Spalletti memberi kesempatan kedua, atau David akan menjadi pemain mahal yang hanya duduk di bangku cadangan? Jawabannya akan terlihat saat pramusim dimulai pada pertengahan Juli.



