Dolar AS Kembali Tembus Rp18.000: Serangan ke Iran Guncang Pasar Valas
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok ke level Rp18.030 per dolar di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran.
- Serangan balasan AS ke Iran menyusul insiden tanker di Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
- Investor Indonesia perlu mewaspadai volatilitas rupiah dan potensi kenaikan harga impor akibat ketegangan geopolitik.

Dolar Amerika Serikat kembali menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Rabu (8/7/2026), setelah aksi balasan militer AS terhadap Iran memicu gelombang kekhawatiran di pasar keuangan global. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan di kawasan Asia.
Berdasarkan data dari money changer di Jakarta, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat di Rp18.030 per dolar pada pukul 13.30 WIB, dengan harga jual kembali di Rp17.985. Angka ini menunjukkan pelemahan signifikan dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya, Selasa (7/7/2026), di mana rupiah sempat menguat tipis 0,08 persen ke Rp17.970 per dolar.
Tekanan terhadap rupiah kali ini datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat melancarkan serangan balasan ke Iran setelah melaporkan adanya serangan terhadap sejumlah tanker yang melintasi Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini langsung memicu kepanikan pasar terhadap potensi krisis energi.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah ini berpotensi mendongkrak biaya impor, terutama untuk komoditas energi dan bahan baku industri. Jika ketegangan berlanjut, harga minyak mentah dunia diperkirakan akan merangkak naik, yang pada akhirnya bisa membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Pelaku pasar domestik, termasuk importir dan perusahaan dengan utang dolar, perlu bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dalam jangka pendek.
Analis pasar valas menilai bahwa sentimen risk-off saat ini masih akan mendominasi pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. "Pasar sedang menghindari aset berisiko, dan rupiah termasuk yang paling rentan karena ketergantungan Indonesia pada aliran modal asing," ujar seorang pengamat ekonomi. Ia menambahkan bahwa intervensi Bank Indonesia mungkin diperlukan untuk menahan laju pelemahan lebih lanjut.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada perkembangan diplomatik antara AS dan Iran. Jika konflik mereda, rupiah berpotensi kembali ke kisaran Rp17.900โRp18.000. Namun, bila serangan balasan berlanjut, bukan tidak mungkin dolar AS akan menguat lebih jauh, menguji level Rp18.200 atau lebih. Pertanyaan besarnya: sejauh mana ketahanan fundamental ekonomi Indonesia mampu menahan guncangan geopolitik ini?



