Konflik Timur Tengah Dorong Vietnam Kaji Kembali Pembangkit Batubara
Baca dalam 60 detik
- Vietnam mempertimbangkan penambahan kapasitas PLTU batubara setelah konflik Iran mengganggu pasokan LNG.
- Target pembangkit LNG 22,5 GW pada 2030 baru tercapai 7,3% akibat hambatan regulasi dan minim minat investor.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi pasar energi regional dan memperkuat tren penggunaan batubara di Asia Tenggara.

Pemerintah Vietnam tengah mengkaji kemungkinan menambah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara guna mengamankan pasokan energi nasional. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian pasokan gas alam cair (LNG) yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya perang Iran.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (8/7), pemerintah Vietnam mengakui bahwa gejolak di kawasan Teluk telah mempengaruhi keamanan pasokan LNG. “Konflik di Timur Tengah baru-baru ini berdampak pada keamanan pasokan LNG, sehingga menciptakan kebutuhan untuk memperkuat ketahanan energi,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Sebagai respons, Hanoi mengisyaratkan akan merevisi rencana induk ketenagalistrikan nasional dengan menambah porsi batubara dalam bauran energi.
Vietnam selama ini menargetkan pembangunan pembangkit LNG berkapasitas total 22,5 gigawatt (GW) pada 2030. Namun, realisasinya masih sangat minim: baru 7,3 persen dari target yang tercapai. Hambatan utama adalah kerumitan regulasi dan kurangnya minat investor. Kini, faktor geopolitik turut memperlambat proyek-proyek LNG yang sudah direncanakan.
Keputusan Vietnam untuk kembali ke batubara menjadi sinyal yang kontras dengan komitmen iklim global. Negara ini sebelumnya gencar mempromosikan energi terbarukan dan LNG sebagai bagian dari transisi energi. Namun, tekanan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang tumbuh cepat—didorong oleh ekspansi sektor manufaktur—memaksa pemerintah mengambil langkah pragmatis. Perusahaan listrik negara EVN mencatat konsumsi listrik pada paruh pertama tahun ini melonjak 9,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Bagi Indonesia, langkah Vietnam ini patut dicermati. Sebagai sesama negara ASEAN dengan ketergantungan tinggi pada batubara, Indonesia menghadapi dilema serupa: antara mengejar target energi bersih dan menjaga keandalan pasokan. Konflik di Timur Tengah juga berpotensi mengerek harga LNG global, yang dapat mempengaruhi rencana pembangunan pembangkit LNG di Indonesia. Jika Vietnam yang relatif lebih maju dalam proyek LNG saja kesulitan, Indonesia mungkin perlu mengkaji ulang strategi energi nasionalnya.
Menurut analis energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), situasi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada satu sumber energi—apalagi yang rentan terhadap gejolak geopolitik—berisiko tinggi. “Vietnam harus menyeimbangkan antara keamanan pasokan jangka pendek dan komitmen dekarbonisasi jangka panjang. Batubara memang solusi instan, tapi konsekuensi lingkungannya berat,” ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya.
Ke depan, Vietnam diperkirakan akan tetap melanjutkan proyek LNG yang sudah berjalan, namun dengan kecepatan lebih lambat. Pertanyaannya, akankah negara-negara berkembang lain di Asia mengikuti jejak Vietnam—atau justru mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk menghindari jebakan batubara?



