Pelatih Tanpa Pengalaman Senior, Mohamed Ouahbi Bawa Maroko ke Perempat Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Mohamed Ouahbi, yang sebelumnya hanya menangani tim junior, sukses membawa Maroko ke perempat final Piala Dunia 2026 tanpa terkalahkan dalam 10 laga.
- Karier kepelatihan Ouahbi dimulai dari akar rumput di Anderlecht, membentuk pemain seperti Jeremy Doku dan Youri Tielemans, sebelum menangani timnas junior Maroko.
- Keberhasilannya menjadi contoh bagaimana diaspora dan pembinaan usia dini dapat menghasilkan pelatih berkualitas, relevan bagi pengembangan sepak bola Indonesia.

Mohamed Ouahbi, pelatih kepala Maroko yang relatif tidak dikenal di level senior, justru menjadi arsitek di balik langkah timnya ke perempat final Piala Dunia 2026. Tanpa pengalaman melatih tim utama sebelumnya, Ouahbi membuktikan bahwa rekam jejak di level junior bisa menjadi fondasi kokoh untuk bersaing di panggung terbesar sepak bola dunia.
Pelatih kelahiran Belgia ini mengambil alih kursi pelatih Maroko pada Maret 2026, menggantikan Walid Regragui yang mengundurkan diri setelah Piala Afrika. Banyak pihak meragukan kemampuannya karena ia belum pernah menangani tim senior. Namun, dalam 10 pertandingan perdananya, Ouahbi mencatatkan rekor tak terkalahkan: enam kemenangan dan empat hasil imbang. Kini, ia bersiap menghadapi Prancis di perempat final, tim yang pernah ia kalahkan di semifinal Piala Dunia U-20 2025.
Karier Ouahbi dimulai dari level paling bawah. Pada usia 21 tahun, ia melatih tim U-9 Anderlecht, kemudian naik ke tim U-21, hingga menjadi asisten pelatih tim utama pada 2016. Setelah pelatih utama dipecat, ia kembali ke pembinaan usia muda, membesarkan nama-nama seperti Jeremy Doku, Youri Tielemans, dan Bilal El Khannouss. Jean Kindermans, mantan kepala pengembangan pemain Anderlecht, menyebut Ouahbi sebagai pelatih muda yang memiliki nilai dan prinsip kuat, serta motivator ulung.
Kisah Ouahbi memberikan pelajaran berharga bagi pengembangan sepak bola Indonesia. Pembinaan usia dini yang sistematis, seperti yang ia jalani di Anderlecht selama 17 tahun, mampu melahirkan pelatih berkualitas tanpa harus melalui jalur karier pemain profesional. Di Indonesia, masih jarang pelatih yang naik dari level akar rumput ke tim nasional senior. Keberhasilan Ouahbi menunjukkan bahwa investasi pada pelatih muda dan program pembinaan jangka panjang dapat menghasilkan prestasi di level tertinggi.
Asisten pelatih Maroko, Youssouf Hadji, memuji pendekatan taktis Ouahbi. "Ia punya gaya bermain sendiri dan tidak terpengaruh lawan. Sekarang Maroko punya identitas yang jelas," ujarnya. Kemampuan Ouahbi mengelola para pemain bintang โ yang notabene lebih berpengalaman darinya โ menjadi kunci. Ia mengandalkan motivasi dan pendekatan personal, bukan sekadar otoritas.
Pertandingan melawan Prancis akan menjadi ujian terberat bagi Ouahbi. Namun, terlepas dari hasilnya, ia telah membuktikan bahwa kurangnya pengalaman di level senior bukanlah halangan mutlak. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru model pembinaan pelatih seperti ini? Atau justru akan terus bergantung pada pelatih asing yang instan?



