Antrean IPO di Tengah Dinamika Pasar: Airlangga Tegaskan Kepercayaan pada Ekonomi RI
Baca dalam 60 detik
- Menteri Koordinator Airlangga Hartarto menyebut maraknya IPO sebagai sinyal optimisme dunia usaha terhadap fundamental ekonomi nasional yang solid.
- Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% didorong konsumsi domestik dan investasi, dengan sektor makanan-minuman berkontribusi 7,31% terhadap PDB.
- Pemerintah bersama OJK dan BEI berkomitmen memperkuat reformasi pasar modal untuk menjaga daya tarik investasi dan memperdalam akses pembiayaan jangka panjang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai deretan perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa merupakan cermin kepercayaan dunia usaha terhadap pasar modal Indonesia yang tetap kokoh di tengah gejolak pasar saham. Pernyataan itu disampaikan saat pencatatan saham perdana PT Niramas Utama Tbk di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (7/7/2026), yang menjadi IPO kedua di tahun ini.
Menurut Airlangga, berlanjutnya aktivitas IPO menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional. Hal itu diperkuat data pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 yang mencapai 5,61%, lebih tinggi dari periode sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut ditopang konsumsi rumah tangga yang kuat, investasi yang menggeliat, serta reformasi struktural yang terus dijalankan pemerintah.
Sektor makanan dan minuman menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan. Kontribusinya terhadap PDB nasional naik dari 7,20% menjadi 7,31% pada triwulan I 2026, dengan pertumbuhan sektor mencapai 7,04%. Lonjakan permintaan selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) menjadi pendorong utama. Realisasi investasi di sektor ini juga impresif: Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat Rp10,48 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp16,34 triliun pada periode yang sama.
Pemerintah tidak hanya mengandalkan sektor riil. Reformasi pasar modal terus digenjot untuk menjaga kepercayaan investor. Keputusan MSCI yang kembali mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market pada evaluasi Juni 2026 menjadi bukti pengakuan global terhadap fundamental ekonomi dan kredibilitas pasar modal Tanah Air. Langkah ini diharapkan memperkuat fungsi bursa sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi.
Airlangga menegaskan, ada enam emiten lain yang siap mencatatkan saham perdananya dalam waktu dekat. "Selamat dan pecah telur bagi Direktur Utama BEI yang baru, ini IPO pertama kali sejak menjabat," ujarnya. Kehadiran para emiten anyar ini dinilai akan memperdalam pasar modal, memperluas akses pendanaan, dan pada akhirnya mendorong ekspansi usaha serta penciptaan lapangan kerja.
Ke depan, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI berkomitmen meningkatkan transparansi, tata kelola, dan perlindungan investor. Reformasi berkelanjutan ini menjadi kunci agar pasar modal Indonesia tidak hanya diminati investor domestik, tetapi juga tetap kompetitif di kancah global. Pertanyaannya, bisakah momentum IPO ini bertahan jika tekanan eksternal kembali meningkat?



