Konflik Timur Tengah Memanas, Pasar Global Terkoreksi: Minyak Melonjak, Inflasi Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Serangan AS ke target Iran dan insiden di Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak serta kekhawatiran inflasi baru, mendorong indeks utama Asia, Eropa, dan AS ke zona merah.
- Saham teknologi Hong Kong justru menguat, dengan Tencent melesat 3,38% setelah aksi jual sebagian saham Kuaishou senilai 1,5 miliar dolar AS, menopang Naspers dan Prosus di bursa Afrika Selatan.
- Risiko geopolitik diperkirakan menekan pasar Indonesia melalui kenaikan harga komoditas energi dan pelemahan rupiah, sementara investor menanti risalah rapat Federal Reserve untuk petunjuk suku bunga.

Ketegangan baru di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global, mendorong indeks utama di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat ke zona merah. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk serangan udara AS ke sasaran militer Iran serta serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak dan membangkitkan kembali kekhawatiran akan tekanan inflasi yang dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dalam laporan paginya, First National Bank (FNB) mencatat perdagangan di Asia berlangsung lesu di sebagian besar kawasan. Indeks Nikkei 225 Jepang tergelincir 0,58%, sementara Hang Seng Hong Kong justru melonjak 2,54% berkat minat baru terhadap saham teknologi dan konsumen. Saham Tencent menjadi bintang dengan kenaikan 3,38% setelah investor menyambut positif langkah perusahaan melepas sebagian kepemilikan di Kuaishou senilai 1,5 miliar dolar AS.
Di Amerika Serikat, pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang rilis risalah rapat Federal Reserve (Fed) yang dijadwalkan keluar hari ini. Indeks S&P 500 turun 0,45%, Nasdaq merosot 1,16%, dan Dow Jones melemah 0,25%. Sementara itu, bursa Eropa bergerak mixed: FTSE 100 naik tipis 0,13%, namun Euro Stoxx 50 anjlok 1,22% karena investor menunggu petunjuk arah kebijakan moneter AS dan memantau perkembangan konflik AS-Iran.
Bursa saham Afrika Selatan (JSE) diperkirakan akan dibuka melemah pagi ini, mengikuti tekanan global. Indeks ASX Metals and Mining Australia turun 2,47%, yang kemungkinan membebani saham sumber daya lokal. Di sisi lain, harga emas sedikit menguat, memberikan dukungan terbatas bagi emiten tambang emas di JSE, sementara platinum justru melemah. Saham Naspers dan Prosus diperkirakan akan mendapat angin segar dari penguatan Tencent, membantu membatasi penurunan lebih dalam.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik Timur Tengah membawa risiko langsung. Kenaikan harga minyak dapat memperlebar defisit neraca perdagangan dan mendorong inflasi impor, sementara pelemahan rupiah menjadi ancaman nyata. Investor di pasar saham domestik perlu mencermati pergerakan sektor energi dan komoditas, serta menanti risalah Fed yang bisa memberikan sinyal tentang laju pengetatan moneter ke depan. Jika suku bunga global tetap tinggi, arus modal asing ke pasar negara berkembang seperti Indonesia berpotensi terhambat.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan diplomasi AS-Iran dan data inflasi AS. Apakah gencatan senjata dapat meredakan ketegangan, atau justru konflik semakin meluas? Jawabannya akan menentukan arah harga minyak dan kebijakan moneter global, yang pada akhirnya memengaruhi stabilitas pasar keuangan Indonesia.



