Biksu Bhutan Hilang di Prancis: Jejak Dugaan Perdagangan Manusia
Baca dalam 60 detik
- Seorang mantan biksu asal Bhutan, Thinley Wangchuk (31), dilaporkan hilang setelah enam bulan di Prancis, memicu kekhawatiran akan adanya jaringan perdagangan manusia.
- Keluarga telah melakukan ritual kematian karena putus asa, sementara Kedutaan Bhutan di Brussel telah melaporkan kasus ini ke polisi Prancis.
- Kasus ini diduga terkait dengan modus perjalanan ilegal biksu Bhutan ke Prancis menggunakan identitas palsu, dengan beberapa laporan serupa muncul dari daerah lain.

Enam bulan telah berlalu sejak Thinley Wangchuk, mantan biksu berusia 31 tahun asal Bhutan, terakhir kali menghubungi keluarganya dari Prancis. Kini, sang ibu telah kehilangan harapan dan menjalani ritual pasca-kematian, meskipun belum ada kepastian apakah putranya masih hidup atau telah meninggal.
Thinley Wangchuk tiba di Prancis pada akhir 2025 dengan visa Schengen turis yang diperolehnya melalui VFS Global di Thimphu. Selama tiga bulan pertama, ia tampak beradaptasi dengan baik, tinggal bersama seseorang yang menjemputnya di bandara. Namun, komunikasi mulai meredup setelah ia mengeluh tidak bahagia dan ingin pulang. Keluarga berusaha mengirimkan uang untuk tiket pesawat, tetapi transfer tertunda akibat gangguan sistem perbankan di Bhutan pada pertengahan Februari. Sejak 16 Februari, ponselnya mati total.
Kedutaan Besar Kerajaan Bhutan di Brussel telah mengajukan laporan orang hilang ke kepolisian Prancis di Paris. Sumber menyebutkan bahwa kasus ini mungkin terkait dengan jaringan perdagangan manusia yang membawa biksu Bhutan ke Prancis melalui jalur tidak resmi, kadang menggunakan identitas palsu. Sejumlah biksu dari Wangdue dan Pemagatshel dilaporkan melakukan perjalanan serupa dengan modus pernikahan fiktif dengan warga Tibet.
Keluarga Thinley yang tinggal di desa awalnya tidak mengetahui tujuan pasti putranya. Mereka mengira ia akan ke Taiwan, Mysore, atau Australiaโdestinasi umum warga Bhutan. Baru setelah tiba di Prancis, mereka mengetahui fakta sebenarnya. Istrinya, yang bekerja sebagai buruh harian, kini harus menghidupi anak mereka yang berusia dua tahun sendirian.
Menurut sumber, Thinley sempat menjalani pelatihan persiapan sayuran setelah tiba di Prancis, menunjukkan kemungkinan ia dipekerjakan secara ilegal. Warga Bhutan di Prancis yang tergabung dalam grup media sosial meyakini ia masih berada di negara tersebut, namun belum ada perkembangan berarti dari pihak berwenang.
Kasus ini membuka mata akan kerentanan warga negara berkembang, termasuk Indonesia, terhadap praktik perdagangan manusia yang menyamar sebagai peluang kerja atau studi di luar negeri. Modus serupa kerap terjadi di kawasan Asia Tenggara, di mana korban diiming-imingi gaji tinggi atau pendidikan, namun berakhir dalam eksploitasi. Pemerintah Indonesia sendiri telah beberapa kali memulangkan pekerja migran yang menjadi korban perdagangan manusia dari Timur Tengah dan Eropa.
Pertanyaan yang tersisa: akankah jaringan ini terungkap sebelum lebih banyak biksu Bhutan menjadi korban? Atau akankah Thinley Wangchuk menjadi satu lagi nama yang hilang dalam arus migrasi gelap global?



