Diabetes Tipe 2 Tingkatkan Risiko Gangguan Pendengaran Hingga Dua Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Meta-analisis terhadap 29 studi menemukan satu dari empat pengidap diabetes tipe 2 mengalami gangguan pendengaran klinis yang membutuhkan alat bantu dengar.
- Risiko tertinggi terjadi pada pasien di bawah 60 tahun dan mereka yang baru didiagnosis kurang dari satu dekade, mengindikasikan kerusakan dini pada saraf pendengaran.
- Para peneliti mendesak agar tes pendengaran rutin dimasukkan ke dalam standar perawatan diabetes, sejajar dengan skrining mata dan ginjal.

Gangguan pendengaran yang cukup parah hingga mengganggu percakapan sehari-hari ternyata dialami oleh satu dari empat orang dewasa dengan diabetes tipe 2, menurut sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru. Temuan ini mengindikasikan bahwa kerusakan pendengaran merupakan komplikasi yang selama ini terabaikan, padahal prevalensinya setara dengan retinopati atau nefropati yang sudah rutin diskrining.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Diabetes Metabolism Research and Reviews itu menganalisis data dari 29 studi observasional yang melibatkan lebih dari 17.000 partisipan di berbagai negara. Hasilnya, individu dengan diabetes tipe 2 atau pradiabetes memiliki kemungkinan dua kali lebih besar mengalami gangguan pendengaran signifikan secara klinis dibandingkan mereka yang tidak mengidap diabetes. Bahkan, pada kelompok usia di bawah 60 tahun, risikonya melonjak hingga tiga kali lipat.
โSatu dari empat orang dewasa dengan diabetes memiliki gangguan pendengaran yang cukup serius sehingga kesulitan dalam percakapan sehari-hari โ jenis yang membutuhkan alat bantu dengar. Namun, kondisi ini tidak ada dalam daftar periksa dokter,โ ujar Mehwish Nisar, peneliti utama dari University of Queensland Centre for Hearing Research, Australia. Ia menambahkan bahwa beban gangguan pendengaran ini sebanding dengan komplikasi diabetes lain yang sudah lazim diskrining, seperti retinopati dan nefropati.
Yang menarik, peningkatan risiko tetap signifikan bahkan pada pasien yang baru didiagnosis diabetes dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan pendengaran bisa dimulai lebih awal dari perkiraan sebelumnya. โOrang dengan diabetes sebaiknya tidak menunggu hingga gangguan pendengaran menjadi parah atau menganggapnya hanya karena faktor usia. Mereka perlu meminta pemeriksaan pendengaran, terutama jika berusia di bawah 60 tahun atau memiliki riwayat diabetes yang relatif singkat,โ tegas Nisar.
Mekanisme biologis di balik hubungan ini belum sepenuhnya dipahami, namun penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kadar gula darah tinggi yang kronis dapat merusak pembuluh darah kecil dan saraf di koklea (telinga bagian dalam), mirip dengan yang terjadi pada retinopati dan neuropati. Kerusakan ini meliputi mikroangiopati, stres oksidatif, dan neuropati yang memengaruhi jalur saraf pendengaran. Akibatnya, kemampuan telinga untuk mendeteksi suara, terutama pada frekuensi tinggi, menurun secara perlahan dan sering tidak disadari hingga mengganggu komunikasi sehari-hari.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat penting. Dengan jumlah pengidap diabetes yang diperkirakan mencapai lebih dari 10 juta jiwa, potensi gangguan pendengaran yang tidak terdiagnosis juga sangat besar. Sayangnya, kesadaran akan komplikasi ini masih rendah, baik di kalangan tenaga kesehatan maupun pasien. Skrining pendengaran belum menjadi bagian dari standar perawatan diabetes di Tanah Air, berbeda dengan pemeriksaan mata dan ginjal yang sudah lebih terintegrasi.
โTes pendengaran audiometri nada murni sebenarnya sederhana, tidak invasif, dan murah. Tes ini bisa mendeteksi gangguan pendengaran yang bermakna secara klinis sebelum menjadi disabilitas,โ kata Nisar.
Para peneliti berharap temuan ini mendorong perubahan kebijakan, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah yang memiliki risiko lebih tinggi namun akses terhadap layanan audiologi dan alat bantu dengar sangat terbatas. โKami ingin skrining audiometri rutin dibangun ke dalam perawatan diabetes standar, sama seperti pemeriksaan mata dan ginjal. Ini sangat mendesak, terutama untuk dewasa muda, di mana risiko gangguan pendengaran paling tinggi dan paling kecil kemungkinannya dikacaukan dengan penuaan normal,โ pungkas Nisar.
Ke depan, jika penelitian prospektif lebih lanjut mengonfirmasi manfaat skrining dini, tes pendengaran bisa menjadi alat deteksi komplikasi yang penting untuk menjaga kualitas hidup pengidap diabetes. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan Indonesia siap mengadopsi langkah ini sebelum jutaan pasien kehilangan akses terhadap komunikasi yang layak?



