Mantan Pemain Dallas Cowboys Ditemukan Idap CTE Stadium 1 Sebelum Bunuh Diri
Baca dalam 60 detik
- Marshawn Kneeland, mantan pemain Dallas Cowboys, didiagnosis menderita CTE stadium 1 setelah meninggal bunuh diri pada 2025.
- Penelitian Boston University menemukan hampir setengah atlet yang meninggal di bawah 30 tahun memiliki CTE, menunjukkan risiko tinggi olahraga kontak.
- Kasus ini memicu pertanyaan tentang efektivitas protokol gegar otak modern dalam mencegah CTE pada atlet muda.

Pemain bertahan Dallas Cowboys, Marshawn Kneeland, yang meninggal bunuh diri pada November 2025, didiagnosis menderita chronic traumatic encephalopathy (CTE) stadium 1 setelah otopsi jaringan otaknya. Temuan ini diumumkan oleh Boston University CTE Center, mengungkapkan bahwa atlet berusia 24 tahun itu telah mengalami kerusakan otak akibat benturan berulang di kepala.
CTE adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang hanya dapat dideteksi setelah kematian. Stadium 1, yang merupakan tahap paling ringan, sering ditandai dengan sakit kepala, hilangnya konsentrasi, dan masalah memori jangka pendek. Dalam kasus Kneeland, keluarganya menyatakan bahwa diagnosis ini memberikan "konteks penting" terhadap perjuangan yang ia hadapi sebelum meninggal. Mereka berharap informasi ini membantu publik memahami apa yang dialami atlet NFL dan olahraga kontak tinggi lainnya.
Kneeland direkrut oleh Cowboys pada putaran kedua draft 2024 dan tampil dalam 18 pertandingan, termasuk empat kali sebagai starter. Ia mulai bermain sepak bola Amerika pada usia 7 tahun dan sebelumnya bermain untuk Western Michigan University. Kematiannya terjadi setelah pengejaran mobil oleh polisi Texas, di mana ia mengalami kecelakaan, melarikan diri, dan kemudian ditemukan tewas akibat luka tembak sendiri.
Peneliti CTE menekankan bahwa kasus ini menunjukkan kurangnya kemajuan dalam mengurangi risiko penyakit tersebut. Dr Chris Nowinski, CEO Concussion & CTE Foundation, menyatakan, "Kneeland bermain di era modern dengan protokol gegar otak dan helm yang lebih baik, namun ia tetap mengembangkan CTE. Kami tidak punya alasan untuk percaya bahwa generasi saat ini memiliki risiko lebih rendah dibanding generasi sebelumnya." Pernyataan ini menggarisbawahi kegagalan langkah-langkah keselamatan saat ini dalam mencegah CTE.
Di Indonesia, meskipun sepak bola Amerika tidak populer, olahraga kontak seperti sepak bola, rugby, dan tinju juga memiliki risiko CTE. Penelitian menunjukkan bahwa atlet di cabang olahraga ini memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit tersebut. Kasus Kneeland menjadi pengingat bagi regulator olahraga di Indonesia untuk memperketat protokol keamanan, terutama terkait benturan kepala, dan meningkatkan kesadaran akan dampak jangka panjang dari cedera otak.
Pertanyaan yang muncul: apakah protokol gegar otak saat ini cukup efektif, atau diperlukan perubahan fundamental dalam cara olahraga kontak dijalankan? Dengan temuan bahwa CTE tetap terjadi meskipun ada kemajuan teknologi, masa depan olahraga kontak mungkin memerlukan evaluasi ulang yang serius.



