Modi Disambut Raksasa di Melbourne, Agenda Uranium dan Mineral Kritis Mengemuka
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Australia difokuskan pada kerja sama pertahanan, pasokan uranium, dan mineral kritis untuk memenuhi kebutuhan energi dan industri kendaraan listrik India.
- Hubungan kedua negara menguat di tengah upaya bersama membendung pengaruh militer China di kawasan Asia-Pasifik, dengan Quad sebagai kerangka kerja sama utama.
- Modi dijadwalkan menghadiri acara komunitas massal di Melbourne yang diperkirakan dihadiri lebih dari 20.000 orang, namun juga memicu protes terkait isu minoritas dan migrasi.

Perdana Menteri India Narendra Modi tiba di Melbourne pada Rabu (8/7) untuk melakukan pembicaraan bilateral yang diprediksi akan menyoroti kerja sama pertahanan, akses terhadap mineral kritis, serta pengamanan pasokan uranium. Kunjungan ini menandai semakin eratnya hubungan dua negara yang sebelumnya sempat renggang akibat perbedaan posisi selama Perang Dingin.
Modi dijadwalkan mendapat sambutan meriah dalam acara komunitas bertajuk "Melbourne meets Modi" di Marvel Stadium pada Kamis. Panitia memperkirakan lebih dari 20.000 orang akan hadir, melampaui jumlah peserta saat kunjungan Modi ke Sydney pada 2023. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese bahkan pernah bercanda bahwa daya tarik Modi melebihi bintang rock Bruce Springsteen.
Di balik kemeriahan, agenda utama pertemuan kedua pemimpin adalah membahas kerja sama energi nuklir. India, negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa, berencana memperluas kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir secara drastis. Sementara Australia diperkirakan memiliki 28 persen cadangan uranium dunia menurut World Nuclear Association. Meskipun kedua negara telah menandatangani perjanjian kerja sama nuklir pada 2015, hambatan hukum masih menghalangi realisasi ekspor uranium secara signifikan.
Selain uranium, India juga membidik mineral kritis seperti lithium yang melimpah di Australia. Permintaan ini didorong ambisi New Delhi menguasai pasar kendaraan listrik global. Hubungan bilateral yang semakin hangat juga dipicu oleh kekhawatiran bersama terhadap ekspansi militer China di kawasan. Australia dan India bersama Amerika Serikat serta Jepang tergabung dalam Quad, aliansi yang dipandang sebagai penyeimbang pengaruh Beijing.
Namun, kunjungan Modi tidak luput dari kontroversi. Aliansi Melawan Islamofobia Australia berencana menggelar protes di luar stadion, menyoroti dugaan penganiayaan terhadap kelompok minoritas di India. Aksi protes terpisah juga direncanakan terkait kebijakan imigrasi India ke Australia. Setelah Melbourne, Modi dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Selandia Baru.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi strategis di kawasan. Sebagai sesama anggota ASEAN dan mitra dialog Quad, Indonesia perlu mencermati bagaimana kerja sama pertahanan dan energi Australia-India dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik. Apakah Indonesia akan mengambil langkah serupa dalam mengamankan pasokan mineral kritis atau justru memperkuat kemandirian energi? Pertanyaan ini menjadi tantangan bagi kebijakan luar negeri dan industri dalam negeri ke depan.



