Danantara Resmi Merger Empat Manajer Investasi BUMN, Mandiri MI Jadi Entitas Induk
Baca dalam 60 detik
- BPI Danantara menggabungkan PNM Investment Management, BNI Asset Management, Mandiri Manajemen Investasi, dan BRI Manajemen Investasi menjadi satu entitas.
- Mandiri Manajemen Investasi ditetapkan sebagai surviving entity yang akan menaungi seluruh portofolio aset BUMN.
- Langkah ini diyakini mampu menciptakan manajer investasi terbesar di Indonesia dan meningkatkan daya tarik bagi investor global.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi mengonsolidasikan empat perusahaan manajemen investasi pelat merah menjadi satu entitas tunggal. Langkah ini menjadikan Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri MI) sebagai perusahaan yang bertahan dan akan menaungi seluruh portofolio aset dari PNM Investment Management, BNI Asset Management, serta BRI Manajemen Investasi.
Keputusan tersebut diumumkan setelah rapat yang dihadiri oleh jajaran puncak Danantara, termasuk CEO Rosan Roeslani, COO Dony Oskaria, dan CIO Pandu Sjahrir. Menurut Kepala Badan Pembina BUMN Dony Oskaria, merger ini bukan sekadar efisiensi struktural, melainkan langkah strategis untuk menciptakan pengelola aset negara yang lebih terintegrasi dan profesional. "Streamlining itu bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana aset-aset BUMN yang sudah ditata bisa dikelola lebih optimal, lebih produktif, dan benar-benar menciptakan nilai tambah buat negara," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).
Konsolidasi ini diproyeksikan akan melahirkan perusahaan manajemen investasi terbesar di Indonesia dari sisi total aset yang dikelola (AUM). Dengan menggabungkan empat entitas, Danantara berharap dapat mengintegrasikan portofolio aset yang sebelumnya tersebar, memperkuat kapabilitas riset dan tata kelola, serta meningkatkan efisiensi biaya operasional. Langkah ini juga diyakini dapat memperbesar daya tarik investasi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Bagi investor dan pelaku pasar modal, konsolidasi ini membawa implikasi signifikan. Dengan skala yang lebih besar, entitas hasil merger diyakini memiliki daya tawar lebih kuat dalam negosiasi instrumen investasi, serta mampu menawarkan produk yang lebih kompetitif. Di sisi lain, efisiensi biaya operasional diharapkan dapat meningkatkan imbal hasil bagi nasabah, termasuk dana pensiun, asuransi, dan institusi keuangan lainnya yang menjadi mitra utama manajer investasi BUMN.
Dari perspektif ekonomi nasional, penggabungan ini sejalan dengan agenda Danantara untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset negara. Selama ini, keempat manajer investasi beroperasi secara independen dengan potensi tumpang tindih portofolio dan inefisiensi biaya. Dengan adanya satu entitas terpadu, Danantara berharap produktivitas aset BUMN meningkat, kepercayaan investor menguat, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional semakin besar.
Kendati demikian, tantangan integrasi pasca-merger tidak bisa diabaikan. Proses penyatuan sistem teknologi, budaya kerja, dan sumber daya manusia dari empat entitas berbeda memerlukan waktu dan manajemen perubahan yang hati-hati. Belum lagi potensi kekhawatiran nasabah terhadap perubahan layanan dan struktur biaya. Namun, dengan pengalaman Pandu Sjahrir di industri keuangan dan dukungan penuh dari jajaran direksi Danantara, optimisme tetap tinggi.
Ke depan, publik akan menanti realisasi sinergi yang dijanjikan: apakah entitas baru ini benar-benar mampu menjadi pengelola aset negara yang lebih lincah, transparan, dan menguntungkan? Atau justru akan menghadapi hambatan birokrasi yang lazim melekat pada BUMN? Jawabannya akan terlihat dalam dua hingga tiga tahun ke depan, saat laporan kinerja pertama entitas hasil merger dirilis.



