Badai Dahsyat Landa China: 15 Tewas, Ratusan Luka, Ribuan Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Badai konvektif parah dan Topan Maysak menewaskan 15 orang di Hubei dan Guangxi, dengan 331 luka-luka serta puluhan ribu mengungsi.
- Presiden Xi Jinping memerintahkan upaya penyelamatan maksimal, termasuk perawatan korban dan pemulihan infrastruktur yang rusak.
- Bencana ini mengingatkan Indonesia akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim.

Badai dahsyat yang menerjang sejumlah wilayah di China pada awal pekan ini menewaskan sedikitnya 15 orang, melukai ratusan lainnya, dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Presiden Xi Jinping langsung memerintahkan mobilisasi penuh tim penyelamat untuk menangani dampak bencana yang dipicu oleh cuaca konvektif parah dan sisa-sisa Topan Maysak.
Di Provinsi Hubei, China tengah, badai petir disertai angin kencang merenggut 11 nyawa dan melukai 331 orang. Otoritas setempat melaporkan fenomena "cuaca konvektif parah" yang memicu tornado di beberapa kota pada Senin malam. Sementara itu, di Daerah Otonom Guangxi di selatan, banjir bandang akibat hujan deras dari Topan Maysak menewaskan empat orang, dengan delapan lainnya masih dinyatakan hilang. Sekitar 50.000 warga Guangxi telah dievakuasi ke tempat aman.
Di Nanning, ibu kota Guangxi, otoritas menaikkan status tanggap darurat banjir ke level tertinggi setelah hujan deras menyebabkan jebolnya tanggul. Ribuan personel dikerahkan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak dan mendistribusikan bantuan logistik. Presiden Xi, dalam pernyataan Selasa (8/7), menekankan perlunya "upaya maksimal" dalam operasi darurat, termasuk perawatan korban luka, pemukiman kembali warga terdampak, serta pencegahan bencana susulan.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa potensi siklon tropis dan banjir bandang di wilayah Indonesia juga cenderung meningkat. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi, terutama di daerah rawan seperti pesisir dan lereng gunung.
Ke depan, China diperkirakan masih akan menghadapi ancaman cuaca buruk dalam beberapa pekan mendatang. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana sistem mitigasi bencana China mampu menekan korban jiwa di tengah intensitas badai yang semakin tinggi. Sementara itu, negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, perlu terus memantau perkembangan ini sebagai pelajaran berharga dalam manajemen bencana.



