NATO dan Mitra Indo-Pasifik Sepakat Perkuat Kerja Sama Industri Pertahanan dan Siber
Baca dalam 60 detik
- Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru bersama NATO menyepakati penguatan kerja sama industri pertahanan dan keamanan siber di sela KTT Ankara.
- Pertemuan ini menegaskan keterkaitan keamanan Eropa-Atlantik dan Indo-Pasifik, terutama di tengah meningkatnya kerja sama militer Rusia-Korea Utara.
- Bagi Indonesia, langkah ini berpotensi mendorong dinamika keamanan regional dan membuka peluang diplomasi pertahanan di kawasan.

NATO bersama empat mitra utamanya di kawasan Indo-Pasifik—Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru—menyepakati penguatan kerja sama di bidang industri pertahanan dan keamanan siber. Kesepakatan itu diumumkan dalam pertemuan di Ankara, Turki, yang berlangsung di sela-sela KTT NATO, Selasa (8/7/2025).
Pertemuan itu dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dan Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte. Dari pihak mitra Indo-Pasifik, hadir Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, Menteri Industri Pertahanan Australia Pat Conroy, dan Menteri Pertahanan Selandia Baru Chris Penk. Agenda utama diskusi mencakup respons terhadap agresi Rusia di Ukraina, tantangan terkait China, situasi di Semenanjung Korea, serta perkembangan di Iran.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin menegaskan bahwa keamanan kawasan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik tidak dapat dipisahkan. Motegi secara khusus menyoroti kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara sebagai bukti nyata keterkaitan tersebut. Menurut Kementerian Luar Negeri Jepang, Motegi menekankan bahwa hubungan yang kuat antara NATO dan mitra Indo-Pasifik akan berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas global.
Sekjen NATO Mark Rutte mengapresiasi dukungan keempat negara terhadap Ukraina. Sehari sebelumnya, Rutte mengungkapkan bahwa ia telah bertukar pesan dengan Menteri Koizumi setelah China melakukan uji coba peluru kendali balistik dari kapal selam. Rutte menyebut tindakan China sebagai bukti bahwa negara-negara Barat tidak boleh naif terhadap Beijing, dan menekankan perlunya kerja sama yang lebih erat antara NATO dan mitra Indo-Pasifik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang berada di poros Indo-Pasifik, Indonesia perlu mencermati dinamika aliansi keamanan yang semakin mengerucut. Meski tidak secara langsung terlibat dalam IP4, Indonesia dapat memanfaatkan forum-forum regional seperti ASEAN dan KTT Asia Timur untuk menjaga keseimbangan kepentingan. Langkah NATO yang mulai aktif di kawasan juga dapat memengaruhi kebijakan pertahanan Indonesia, terutama dalam hal modernisasi alutsista dan diplomasi pertahanan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Indonesia akan semakin mendekatkan diri ke blok Barat atau justru memperkuat kemitraan dengan negara-negara non-blok. Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, posisi Indonesia sebagai negara bebas aktif akan kembali diuji. Keputusan untuk bergabung atau tidak dalam kerja sama pertahanan semacam ini akan menentukan arah kebijakan luar negeri Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.



