Naira Terpukul, Likuiditas Valas Menyusut: Imbas bagi Ekonomi RI?
Baca dalam 60 detik
- Naira Nigeria melemah N7,52 per dolar AS seiring penurunan volume transaksi valas hingga 23%.
- Cadangan devisa Nigeria justru menembus rekor US$51,5 miliar, kontras dengan tekanan di pasar spot.
- Gejolak di Nigeria berpotensi mempengaruhi harga minyak dan stabilitas pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Naira Nigeria kehilangan nilai tukarnya hingga N7,52 per dolar AS dalam sepekan terakhir, dipicu oleh menyusutnya likuiditas di pasar valuta asing dan permintaan pembayaran internasional yang tetap tinggi. Kondisi ini menjadi sinyal peringatan bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada impor dan aliran modal asing.
Berdasarkan data Bank Sentral Nigeria (CBN), kurs resmi naira terhadap dolar AS melemah menjadi N1.375,75 per dolar pada Selasa (10/9), dari posisi sebelumnya N1.368,27. Rentang transaksi di Nigerian Foreign Exchange Market (NFEM) juga melebar, dari N1.366โN1.371 menjadi N1.369โN1.380. Pelebaran spread ini mengindikasikan tekanan permintaan yang tidak terimbangi oleh pasokan.
Volume transaksi antar bank di NFEM merosot tajam. Omset harian turun sekitar 23% menjadi US$41,7 juta, sementara jumlah kesepakatan berkurang dari 70 menjadi 47 transaksi. Penurunan ini terjadi di tengah absennya intervensi langsung dari CBN selama beberapa pekan terakhir. Para pelaku pasar menilai bank sentral tengah menguji ketahanan nilai tukar tanpa suntikan likuiditas.
Menariknya, cadangan devisa Nigeria justru melonjak ke level US$51,5 miliar, didorong oleh pendapatan dari ekspor hidrokarbon dan remitansi. Namun, lonjakan cadangan ini belum mampu menopang naira karena sebagian besar dana tersebut tidak langsung masuk ke pasar spot. "Cadangan yang besar memang memberikan bantalan, tetapi jika tidak dikonversi menjadi pasokan valas harian, tekanan tetap akan terasa," ujar seorang analis pasar keuangan di Lagos.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia kembali menguat setelah Amerika Serikat mencabut izin penjualan minyak Iran dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Brent naik 0,89% ke US$72,63, sementara WTI menguat 0,80% ke US$69,10. Kenaikan ini menjadi angin segar bagi Nigeria sebagai eksportir minyak, namun belum cukup untuk mengimbangi permintaan valas yang besar.
Bagi Indonesia, gejolak di Nigeria memberikan dua pelajaran penting. Pertama, ketergantungan pada impor dan utang luar negeri membuat nilai tukar rentan terhadap perubahan likuiditas global. Kedua, intervensi bank sentral yang tidak konsisten dapat memperburuk ekspektasi pasar. Meski Indonesia memiliki cadangan devisa yang lebih besar (US$140 miliar per Agustus), tekanan serupa bisa terjadi jika aliran modal asing keluar secara tiba-tiba.
Ke depan, pasar akan mencermati langkah CBN dalam mengelola likuiditas. Apakah bank sentral akan kembali melakukan intervensi atau membiarkan naira menemukan keseimbangan baru? Jawabannya akan menentukan arah nilai tukar dan kepercayaan investor terhadap ekonomi Nigeria, serta menjadi indikator bagi negara berkembang lainnya.



