Longsor di Lokasi Proyek Terowongan India Tewaskan Tiga Orang, Gubernur Salahkan Kontraktor
Baca dalam 60 detik
- Tiga pekerja tewas dan tujuh lainnya tertimbun longsoran di proyek terowongan Kerala, India, akibat hujan deras yang mengguyur sejak Senin.
- Gubernur Kerala menuding kontraktor mengabaikan perintah pemindahan material tanah yang sudah diperingatkan sebelumnya oleh otoritas setempat.
- Bencana ini memicu kekhawatiran akan keselamatan proyek infrastruktur di musim hujan, relevan dengan kondisi geografis Indonesia yang rawan longsor.

Longsor di lokasi pembangunan terowongan penghubung dua distrik di Kerala, India selatan, menewaskan sedikitnya tiga orang dan menyebabkan tujuh pekerja lainnya tertimbun material pada Selasa (7/7). Insiden di Kalladi itu terjadi saat proyek strategis yang menghubungkan Malappuram dan Wayanad masih dalam tahap konstruksi, dan tim penyelamat masih berupaya menjangkau korban yang terperangkap di bawah tumpukan lumpur dan puing.
Gubernur Kerala, V.D. Satheesan, langsung mengarahkan tuduhan kepada kontraktor proyek. Menurut laporan The Hindu, ia menyatakan bahwa pemerintah daerah telah memberikan instruksi tegas sebelumnya untuk memindahkan akumulasi tanah dalam jumlah besar di area tersebut, tetapi perintah itu tidak diindahkan. โMereka sudah diperingatkan, tapi tidak ada tindakan,โ ujar Satheesan, mengindikasikan adanya kelalaian yang berpotensi menjadi temuan investigasi.
Selain korban tewas, lima orang dilaporkan luka-luka akibat longsor yang dipicu hujan deras sejak Senin. Badan Meteorologi India memperkirakan curah hujan akan semakin intensif dalam beberapa hari ke depan di distrik Wayanad, Kozhikode, Malappuram, Kannur, dan Kasaragod. Peringatan serupa juga dikeluarkan untuk Himachal Pradesh di India utara, sementara hujan monsun telah mengganggu jadwal penerbangan di Delhi dan Mumbai dengan potensi penundaan dan pembatalan.
Kecelakaan konstruksi saat musim hujan seperti ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang memiliki karakteristik geografis serupa dengan Indiaโsering dilanda longsor dan banjir bandang. Proyek-proyek infrastruktur besar di Tanah Air, seperti terowongan kereta cepat atau jalan tol pegunungan, kerap menghadapi risiko serupa jika manajemen keselamatan dan kepatuhan terhadap peringatan dini cuaca tidak dijalankan ketat. Kasus di Kerala menunjukkan bahwa kelalaian kontraktor dalam mengelola material tanah bisa berakibat fatal, terutama saat curah hujan tinggi.
Para ahli keselamatan konstruksi menilai bahwa insiden ini seharusnya bisa dicegah jika prosedur pemantauan lereng dan drainase diterapkan secara disiplin. โLongsor di lokasi proyek sering kali merupakan akumulasi dari pengabaian terhadap tanda-tanda awal, seperti retakan tanah atau genangan air,โ kata seorang analis teknik sipil yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa di India dan Indonesia, pengawasan ketat dari otoritas publik menjadi kunci untuk menekan angka kecelakaan kerja di sektor infrastruktur.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah kontraktor akan dikenai sanksi pidana atau administratif atas kelalaian yang dituduhkan gubernur. Di sisi lain, pemerintah Kerala kini dihadapkan pada tekanan untuk mempercepat evakuasi korban yang masih tertimbun, sementara cuaca buruk diprediksi berlanjut. Bagi Indonesia, kasus ini bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali standar keselamatan proyek-proyek strategis yang beroperasi di musim penghujan.



