Kebakaran TPA Jatiwaringin: Pemkab Tangerang Siapkan Lahan Darurat 2 Hektare
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di TPA Jatiwaringin memaksa Pemkab Tangerang mengalihfungsikan lahan cadangan proyek PSEL seluas dua hektare sebagai tempat penampungan sampah sementara.
- Volume sampah harian mencapai 1.500 ton atau setara 250 truk, sehingga penampungan darurat diperlukan agar layanan pengangkutan tidak terhenti.
- Setelah kebakaran padam, sampah yang tertampung akan dikembalikan ke TPA; lahan tersebut semula disiapkan untuk menampung abu sisa pembakaran PSEL.

Pemerintah Kabupaten Tangerang mengambil langkah darurat dengan menyediakan lahan seluas dua hektare sebagai tempat penampungan sampah sementara, menyusul kebakaran yang masih melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk. Langkah ini ditempuh agar pelayanan pengangkutan sampah dari permukiman warga tetap berjalan normal di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung.
Bupati Tangerang Maesyal Rasyid mengungkapkan bahwa lahan tersebut telah disiapkan untuk menampung sampah sementara waktu. "Berjalan normal, kita sudah siapkan ada lahan dua hektar untuk ditempati sementara sifatnya," ujarnya pada Selasa (7/7). Keputusan ini diambil setelah kebakaran yang dipicu suhu ekstrem dan gas metana di TPA Jatiwaringin melumpuhkan operasional pembuangan sejak 30 Juni lalu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, menambahkan bahwa volume sampah yang harus ditangani setiap hari mencapai sekitar 1.500 ton. "Kalau kita ngitung misalkan satu hari kecilnya saja 250 truk dikali 6 kubik saja kecilnya kan 1.500 ton kan sehari," tuturnya. Tanpa penampungan darurat, aktivitas pengangkutan sampah di masyarakat terancam terhenti dan menimbulkan masalah baru.
Menariknya, lahan yang kini difungsikan sebagai tempat penampungan sementara tersebut sebelumnya dipersiapkan sebagai fasilitas pendukung proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Rencananya, area tersebut akan digunakan untuk menampung limbah sisa pembakaran berupa Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) yang dihasilkan dari operasional PSEL. Ujat menjelaskan, "Jadi sampah (PSEL) itu dibakar pasti ada debunya, fly ash dan bottom ash itu kan. Nanti kita harus menyiapkan juga lahan untuk menampung abunya. Artinya lahan yang sekarang digunakan untuk penampungan sementara itu lahan yang digunakan untuk menampung FABA."
Setelah kebakaran berhasil dipadamkan dan operasional TPA kembali normal, seluruh sampah yang ditampung di lokasi sementara akan dipindahkan kembali ke area TPA Jatiwaringin. Saat ini, petugas gabungan terus berupaya memadamkan api melalui jalur darat dan udara menggunakan armada pemadam kebakaran, alat berat, helikopter water bombing, serta metode inject yang diterapkan personel Manggala Agni untuk menjangkau titik api di bawah permukaan timbunan sampah.
Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur pengelolaan sampah di Indonesia, terutama saat musim kemarau. Pertanyaan yang muncul adalah apakah langkah darurat ini cukup untuk mencegah krisis sampah yang lebih luas, dan bagaimana kelanjutan proyek PSEL setelah lahan cadangannya digunakan untuk kebutuhan mendesak saat ini.



