Tagihan Listrik Pabrik di AS Melonjak Akibat Derasnya Permintaan dari Pusat Data AI
Baca dalam 60 detik
- Biaya kapasitas listrik untuk pabrik di kawasan Rust Belt Amerika Serikat melonjak hingga lebih dari 1.000 persen, didorong oleh pertumbuhan pusat data yang melayani kecerdasan buatan.
- Pabrikan seperti Belden Brick dan Plaskolite menghadapi kenaikan tagihan tahunan hingga enam kali lipat, memaksa mereka menaikkan harga atau mempertimbangkan relokasi.
- Regulasi yang dirancang untuk melindungi rumah tangga justru membebani industri manufaktur, sementara pemerintah AS mendorong raksasa teknologi untuk ikut menanggung biaya infrastruktur listrik.

Lonjakan permintaan listrik dari pusat data yang mendukung kecerdasan buatan (AI) telah mendorong biaya energi pabrik-pabrik di kawasan industri Amerika Serikat (AS) melonjak drastis, mengancam kelangsungan usaha manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Belden Brick Company, produsen batu bata berusia 141 tahun di Sugarcreek, Ohio, mencatat kenaikan tagihan listrik hingga 90 persen pada tahun lalu. Biaya kapasitas bulanan mereka meroket dari 1.600 dolar AS menjadi 12.000 dolar AS. Perusahaan yang produknya menghiasi bangunan ikonik seperti Texas Alamo dan Universitas Notre Dame ini kini harus menaikkan harga jual batu bata sebesar 4 persen, namun laba tetap tergerus.
Fenomena serupa dialami oleh puluhan pabrik lain di kawasan yang dikenal sebagai Rust Belt. Menurut data operator jaringan listrik PJM Interconnection, harga kapasitas per megawatt-day melonjak dari 28,92 dolar AS pada 2024 menjadi 329,17 dolar AS saat ini—kenaikan 1.038 persen. PJM melayani 13 negara bagian dari New Jersey hingga Illinois, wilayah yang juga menjadi incaran pengembang pusat data.
Persoalan ini memicu ketegangan antara industri lama dan raksasa teknologi. Meta dan Amazon, misalnya, memiliki kebutuhan listrik yang bisa 50 kali lipat lebih besar dari pabrik besar sekalipun. Namun, proposal regulasi di tingkat federal dan negara bagian kerap menyamaratakan tarif untuk kedua kelompok tersebut. Paul Cicio, presiden Industrial Energy Consumers of America, menegaskan bahwa pabrikan bukanlah pusat data dan seharusnya tidak terkena dampak kebijakan yang dirancang untuk mengelola permintaan listrik perusahaan teknologi.
Di sisi lain, PJM baru saja mengambil langkah darurat pekan lalu dengan meminta sejumlah pengguna mengurangi konsumsi listrik untuk mencegah pemadaman bergilir akibat gelombang panas yang mendorong permintaan puncak ke rekor baru. Hal ini menunjukkan rapuhnya keseimbangan pasokan listrik di tengah pertumbuhan pusat data yang pesat.
Timothy Ling, direktur lingkungan senior Plaskolite—produsen produk plastik—mengungkapkan bahwa biaya kapasitas tahunan perusahaannya melonjak dari 200.000 dolar AS menjadi 1,2 juta dolar AS. Perusahaan itu kini mempertimbangkan untuk beralih dari jaringan listrik umum ke pasokan gas alam langsung. Sementara itu, Tosoh SMD di Ohio berencana memindahkan produksi ke shift malam saat tarif listrik lebih murah. “Kami berusaha sekreatif mungkin hanya untuk tetap kompetitif,” ujar John Holeman, direktur fasilitas Tosoh.
Pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengambil langkah seperti mendorong penandatanganan “janji perlindungan konsumen” oleh perusahaan teknologi dan menginstruksikan pembangunan pembangkit listrik baru di wilayah PJM yang dibiayai oleh raksasa teknologi. Namun, para pengamat menilai langkah tersebut belum cukup mengatasi akar masalah: infrastruktur listrik yang menua dan lambatnya penambahan kapasitas pembangkit.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran berharga. Dengan maraknya investasi pusat data di dalam negeri—terutama di kawasan Jabodetabek dan Batam—pemerintah perlu merancang kebijakan tarif listrik yang tidak membebani sektor manufaktur. Jika tidak, daya saing industri lokal bisa tergerus di tengah gempuran investasi digital. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengelola keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi digital dan keberlanjutan industri manufaktur?



