Samsung Cetak Laba Melonjak 19 Kali Lipat, tapi Saham Terjun Bebas: Kekhawatiran Puncak AI Mulai Terasa
Baca dalam 60 detik
- Laba operasional Samsung kuartal II-2026 melesat 19 kali lipat dibanding periode sama tahun lalu, didorong oleh permintaan chip memori untuk AI.
- Meski kinerja gemilang, saham Samsung justru ambles 8% dan memicu sentimen negatif di bursa Asia karena investor khawatir pertumbuhan AI telah mencapai puncak.
- Kekhawatiran ini menular ke indeks teknologi global, dengan KOSPI Korea Selatan jatuh 8% dan memicu circuit breaker untuk keenam kalinya tahun ini.

Samsung Electronics membukukan lonjakan laba operasional hingga 19 kali lipat pada kuartal kedua 2026, mencerminkan ledakan permintaan chip memori untuk kecerdasan buatan (AI). Namun, alih-alih disambut euforia, pasar justru bereaksi negatif: saham raksasa teknologi Korea Selatan itu ambles 8% dalam sepekan, menyeret bursa Asia ke zona merah dan memicu kekhawatiran bahwa momentum AI mulai kehilangan tenaga.
Dalam panduan pendapatan awal yang dirilis Selasa (7/7), Samsung memperkirakan laba operasional kuartal April-Juni mencapai 14,5 triliun won (sekitar Rp170 triliun), melonjak dari 0,67 triliun won pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan diproyeksikan naik 23% menjadi 74 triliun won. Kinerja ini terutama ditopang oleh divisi semikonduktor yang memasok chip memori bandwidth tinggi (HBM) untuk pelatihan model AI ke perusahaan seperti Nvidia.
Namun, pasar justru membaca sinyal sebaliknya. Saham Samsung tergelincir 8% pada perdagangan Rabu (8/7), menjadi pemberat utama indeks KOSPI yang juga jatuh 8% dan memicu penghentian perdagangan (circuit breaker) untuk keenam kalinya tahun ini. Analis menilai investor khawatir bahwa pertumbuhan eksponensial permintaan AI mungkin telah mencapai puncaknya, terutama setelah beberapa perusahaan teknologi besar AS melaporkan belanja modal AI yang melambat.
Kekhawatiran ini tidak hanya melanda Samsung. Saham SK Hynix, pemasok chip AI lainnya, juga turun 6%, sementara TSMC di Taiwan melemah 3%. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terkoreksi 2,5% dalam sepekan. โPasar mulai mempertanyakan apakah investasi besar-besaran di AI akan menghasilkan imbal hasil yang sepadan,โ ujar analis dari Mirae Asset Securities, Park Jung-hoon, kepada Reuters. โAngka Samsung memang bagus, tapi ekspektasi sudah terlalu tinggi.โ
Fenomena ini mengingatkan pada siklus ledakan dan kehancuran di era dot-com, meski fundamental AI saat ini lebih kuat. Namun, bagi Indonesia, gejolak ini berpotensi mempengaruhi arus modal asing ke pasar saham dan obligasi, mengingat investor global cenderung mengurangi eksposur ke aset berisiko saat ketidakpastian teknologi meningkat. Di sisi lain, permintaan chip untuk AI masih tumbuh, dan Indonesia sebagai konsumen teknologi tetap diuntungkan oleh inovasi yang dihasilkan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pertumbuhan AI dapat dipertahankan tanpa gelembung. Samsung sendiri optimistis, dengan rencana investasi pabrik baru di Texas dan perluasan kapasitas HBM. Namun, jika kekhawatiran pasar berlanjut, koreksi lebih dalam bisa terjadi, menguji ketahanan ekonomi digital Asia โ termasuk ekosistem startup dan pusat data di Indonesia yang bergantung pada pasokan chip global.



