Iglesia ni Cristo Kembali Geruduk Manila: Dukung Senator yang Terancam Tuduhan Plunder
Baca dalam 60 detik
- Kelompok gereja besar Filipina, Iglesia ni Cristo, melanjutkan aksi protes hari kedua di Manila untuk mendukung Senator Rodante Marcoleta yang dituduh melakukan plunder terkait donasi kampanye.
- Aksi yang hanya dihadiri 5.000 orang ini memicu ketegangan politik antara Presiden Marcos Jr. dan Wakil Presiden Sara Duterte, di tengah sidang pemakzulan yang akan dimulai pekan depan.
- Pemerintah Filipina menempatkan pasukan dalam status siaga merah, sementara kalangan bisnis menyesalkan kemacetan yang ditimbulkan dan meminta perencanaan aksi yang lebih baik.

Gereja berpengaruh di Filipina, Iglesia ni Cristo (INC), kembali menggelar aksi unjuk rasa di pusat kota Manila pada Rabu (7/7/2026) untuk hari kedua. Ribuan anggota gereja memadati kawasan Monumen People Power di sepanjang jalan utama EDSA, mendukung Senator Rodante Marcoleta yang terancam dakwaan plunder atas dugaan donasi kampanye tidak dilaporkan pada pemilu 2025. Aksi ini langsung menyedot perhatian karena memperparah kemacetan di ibu kota dan menambah tensi politik antara Presiden Ferdinand Marcos Jr. dengan Wakil Presiden Sara Duterte.
Jumlah peserta yang hadir sekitar 5.000 orang, jauh dari ekspektasi penyelenggara yang menargetkan 100.000 orang. Angka ini juga menurun drastis dibandingkan hari pertama yang mencapai 14.000 peserta. Meski demikian, bus-bus yang digunakan peserta masih memblokir akses jalan menuju EDSA, memperpanjang kemacetan yang sudah terjadi sejak Selasa. Pemerintah Kota Manila hanya mengizinkan aksi pada Rabu, padahal INC sempat meminta izin hingga Jumat.
Ketegangan politik kian terasa karena aksi ini terjadi di tengah persiapan sidang pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte di Senat yang akan dimulai pekan depan. Sara Duterte, yang dulunya sekutu Marcos, kini menjadi lawan politik utama. Pasar keuangan Filipina bereaksi beragam: indeks saham acuan naik tipis 0,5%, namun peso terus melemah. Langkah INC dinilai sebagian pengamat sebagai bentuk dukungan kepada kubu Duterte, mengingat Marcoleta adalah sekutu dekat mantan Presiden Rodrigo Duterte.
Pemerintah Filipina merespons dengan menempatkan personel militer di wilayah ibu kota dalam status siaga merah. Presiden Marcos Jr., dalam pidato peringatan hari jadi Angkatan Udara Filipina, mengajak seluruh elemen bangsa untuk mempertahankan institusi demokrasi. Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan, Claire Castro, menyatakan bahwa presiden meyakini INC menggelar aksi untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas. Namun, ia meminta kelompok agama itu tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan tertentu. Ombudsman Jesus Crispin Remulla menegaskan bahwa tidak ada pejabat publik yang kebal dari penyelidikan dan penuntutan jika terbukti bersalah.
Dari kalangan bisnis, Ketua Emeritus Kamar Dagang dan Industri Filipina, George Barcelon, menyesalkan kemacetan yang ditimbulkan dan menilai aksi ini bisa direncanakan lebih baik agar tidak mengganggu aktivitas ekonomi. Sementara itu, Senator Alan Peter Cayetano yang hadir dalam aksi justru menyatakan bahwa protes memang bertujuan menimbulkan ketidaknyamanan agar publik sadar akan situasi politik yang terjadi. Senator Imee Marcos, saudara perempuan Presiden Marcos yang juga pendukung Duterte, turut hadir pada malam hari Selasa.
Aksi yang pada hari pertama tidak memiliki izin ini sempat membuat Presiden Marcos membatalkan sejumlah agenda publik. Namun, rencana kunjungan kenegaraan ke Kanada pada 1-4 Juli tetap berjalan, di mana Marcos dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Mark Carney dan para pemimpin bisnis Kanada. INC sendiri dikenal sebagai kekuatan politik yang solid karena anggotanya cenderung memilih secara blok dalam pemilu. Pada pemilu 2022, kelompok ini mendukung pasangan Marcos-Duterte. Kini, dukungan mereka kepada Marcoleta mengindikasikan pergeseran politik yang bisa berdampak pada peta kekuatan parlemen Filipina ke depan.
Ke depan, sidang pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte di Senat akan menjadi ujian bagi stabilitas politik Filipina. Apakah dukungan INC cukup kuat untuk melindungi sekutunya dari jerat hukum, atau justru memperdalam perpecahan di antara elit politik? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan mendatang.



