Virimi Vakatawa: Dari Larangan Medis ke Debut Fiji, Comeback yang Tak Terduga
Baca dalam 60 detik
- Pemain berusia 34 tahun itu sempat dilarang bermain di Prancis karena kondisi jantung, tetapi kini berpeluang memperkuat Fiji melawan Inggris.
- Vakatawa memanfaatkan aturan 'birthright' World Rugby untuk beralih dari Prancis ke Fiji setelah tiga tahun tanpa penampilan internasional.
- Kembalinya Vakatawa menambah daya gedor Fiji yang tengah bersiap menghadapi Inggris di Liverpool, sekaligus menguji ketahanan fisiknya.

Virimi Vakatawa, mantan pemain tengah timnas Prancis yang karirnya terhenti akibat masalah jantung, kini berada di ambang debut untuk Fiji saat mereka bersiap menghadapi Inggris di Liverpool, Sabtu (14:10 BST). Pemain berusia 34 tahun itu mengaku tak pernah membayangkan bisa kembali ke rugby internasional setelah dilarang bermain di Prancis pada September 2022.
Keputusan medis yang dikeluarkan panel dokter di Prancis menyatakan kondisi kardiovaskular Vakatawa memburuk, sehingga ia dianggap terlalu rentan untuk bermain di level elit di negara tersebut. Namun, larangan itu hanya berlaku di dalam negeri. Vakatawa kemudian bergabung dengan Bristol Bears untuk satu musim setelah menjalani pemeriksaan oleh tim medis klub, dan pada Januari lalu ia menandatangani kontrak dengan Fijian Drua.
Panggilan timnas Fiji datang setelah Semi Radradra mengalami cedera lutut saat kalah dari Wales pekan lalu. Vakatawa memenuhi syarat untuk membela Fiji berdasarkan aturan 'birthright' World Rugby, yang memungkinkan pemain beralih kewarganegaraan olahraga ke negara tempat mereka, orang tua, atau kakek-nenek lahir, setelah menjalani masa tunggu tiga tahun. Lahir di Selandia Baru, Vakatawa pindah ke Fiji saat masih kecil.
"Jujur, saya tidak pernah berpikir bisa kembali bermain di level internasional," ujar Vakatawa kepada BBC Sport. "Sejak hari itu, saya pikir semuanya sudah berakhir. Mungkin saya masih bisa bermain di klub, tapi ini luar biasa bisa mewakili Fiji. Ketika saya dipilih, saya terkejut. Untuk bermain bagi Fiji, Anda harus bagus, karena bakat ada di mana-mana."
Vakatawa telah membuktikan kebugarannya dengan tampil gemilang bersama Barbarians dalam pertandingan melawan Afrika Selatan dan Wales bulan lalu. Ia mencetak satu try dan membantu satu try lainnya melawan Springboks. Meskipun ada perbedaan diagnosis dari berbagai ahli jantung, Vakatawa mengaku tidak khawatir. "Saya merasa sehat seperti biasanya. Pendapat dokter berbeda-beda, tapi yang penting saya di sini dan sehat," tegasnya.
Pertandingan ini juga menjadi ajang reuni antara Vakatawa dan Janse van Rensburg, yang sama-sama pernah bermain untuk Bristol musim lalu. Janse van Rensburg, yang sebelumnya membela Afrika Selatan di level U-20, kini memenuhi syarat untuk Inggris. Vakatawa memuji mantan rekannya itu sebagai pemain tim yang solid dan kuat.
Bagi Indonesia, kisah Vakatawa menjadi pengingat bahwa aturan kelayakan di rugby internasional membuka peluang bagi pemain diaspora untuk memperkuat negara asal. Hal ini relevan mengingat potensi pemain keturunan Indonesia di luar negeri yang mungkin bisa memperkuat timnas rugby Indonesia di masa depan. Selain itu, ketegangan antara risiko medis dan ambisi atlet menjadi sorotan, terutama dalam olahraga kontak seperti rugby.
Inggris sendiri tengah dalam tekanan setelah lima kekalahan beruntun sejak Februari. Pelatih Steve Borthwick diperkirakan akan mengumumkan skuad pada Kamis. Pertandingan ini merupakan bagian dari tur musim panas Inggris dalam Nations Championship yang baru, yang akan diakhiri dengan laga melawan Argentina pada 18 Juli. Akankah Vakatawa mampu membawa Fiji meraih kemenangan di Liverpool, atau justru Inggris yang bangkit dari keterpurukan?



