Polisi Vietnam Bongkar Jaringan Judi Rp2 Triliun Selama Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Polisi Vietnam menangkap 85 tersangka terkait dua sindikat judi online dengan total transaksi ilegal mencapai US$133 juta atau setara Rp2 triliun.
- Jaringan ini beroperasi sejak Oktober 2025 dengan menerima akun master dari Kamboja, lalu membaginya ke agen dan pemain di Vietnam.
- Sepanjang 20 hari pertama Piala Dunia 2026, kepolisian Vietnam telah membongkar 73 tempat perjudian dan menahan 346 orang.

Kepolisian Vietnam mengumumkan penangkapan 85 orang yang terlibat dalam dua sindikat judi daring berskala besar dengan nilai transaksi mencapai US$133 juta (sekitar Rp2 triliun) selama perhelatan Piala Dunia 2026. Penggerebekan yang dilakukan pada akhir Juni ini menjadi bagian dari operasi besar-besaran pemerintah komunis tersebut untuk memberantas perjudian ilegal yang marak saat ajang sepak bola bergengsi berlangsung.
Dalam pernyataan resmi, polisi Kota Ho Chi Minh menyebut kedua jaringan itu memiliki “skala operasi yang luar biasa besar” serta “tingkat hierarki dan kontrol yang ketat”. Sejak Oktober 2025, kedua sindikat ini mencatat transaksi ilegal senilai US$133 juta. Para pemimpin jaringan mengaku menerima “akun taruhan tingkat master dari individu di Kamboja” yang kemudian dipecah menjadi banyak akun agen dan anggota untuk didistribusikan kepada penjudi secara daring.
Vietnam melarang keras perjudian daring, namun praktik ilegal tetap subur dan memicu penindakan berkala, terutama saat ajang olahraga internasional. Kementerian Keamanan Publik Vietnam melaporkan bahwa dalam 20 hari pertama Piala Dunia 2026, polisi telah membongkar 73 tempat perjudian dan menahan 346 tersangka. “Uang transaksi dalam kasus-kasus ini mencapai ribuan miliar dong (ratusan juta dolar),” ujar Kolonel Bui Tuan Anh dari kementerian tersebut.
Bagi Indonesia, penggerebekan ini menjadi pengingat akan maraknya judi daring yang juga merajalela di dalam negeri. Otoritas Indonesia kerap melakukan blokade situs judi, namun transaksi tetap mengalir melalui server luar negeri. Modus serupa—menggunakan akun master dari negara tetangga—juga ditemukan di Indonesia, di mana bandar memanfaatkan Kamboja, Filipina, atau Myanmar sebagai basis operasi. Dengan nilai transaksi yang mencapai triliunan rupiah, penegakan hukum lintas batas menjadi tantangan utama.
Piala Dunia 2026 yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat dengan final pada 19 Juli menjadi momentum emas bagi sindikat judi. Pertanyaan yang mengemuka: apakah operasi besar-besaran Vietnam ini cukup untuk memberikan efek jera, atau justru akan mendorong jaringan judi bergerak lebih tersembunyi? Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia, perlu memperkuat kerja sama regional untuk memutus rantai perjudian ilegal yang memanfaatkan euforia sepak bola.



