Jembatan Enang-Enang Bener Meriah: Keselamatan Diutamakan, Akses Warga Tetap Terjaga
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah memastikan Jembatan Enang-Enang di Bener Meriah tetap berfungsi dengan pembatasan kendaraan berat hingga kajian teknis selesai.
- Kebijakan ini merupakan kompromi antara kebutuhan mobilitas warga dan risiko keselamatan, mengingat jembatan merupakan akses vital ke sekolah dan pusat ekonomi.
- Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh akan melakukan penguatan struktur jembatan agar dapat dilalui semua jenis kendaraan dalam waktu dekat.

Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa prioritas utama dalam rekonstruksi infrastruktur di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, adalah keselamatan masyarakat. Hal ini disampaikan usai meninjau langsung Jembatan Enang-Enang yang menjadi akses krusial bagi warga setempat.
Jembatan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat tersebut mendapat apresiasi dari Tito karena mampu menjaga konektivitas dan mobilitas warga pascabencana. Namun, hasil evaluasi sementara menunjukkan bahwa struktur jembatan belum cukup aman, terutama untuk dilintasi kendaraan berat. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk tidak menutup jembatan, melainkan membatasi penggunaannya sambil melakukan penguatan.
"Jembatan Enang-Enang ini tetap difungsikan tapi nanti akan diperkuat dan dipelajari strukturnya teknis itu oleh Balai PU (Pekerjaan Umum)," ujar Tito dalam keterangannya, Selasa (7/7). Selama proses kajian berlangsung, hanya kendaraan roda dua dan kendaraan ringan yang diizinkan melintas. Kendaraan berat baru boleh menggunakan jembatan setelah Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh menyatakan aman.
Kebijakan ini diambil sebagai jalan tengah antara kebutuhan masyarakat akan akses transportasi dan risiko kecelakaan. Tito menegaskan, pemerintah tidak ingin aktivitas warga terganggu, tetapi juga tidak mau mengambil risiko jika jembatan roboh. "Kita enggak ingin juga kalau ada kecelakaan kemudian roboh," tegasnya.
Menurut Tito, pemerintah memahami harapan masyarakat agar jembatan tetap berfungsi. Jembatan ini menjadi urat nadi bagi aktivitas sehari-hari, mulai dari anak-anak yang pergi ke sekolah hingga pedagang yang mengangkut barang. Jika ditutup total, dampak ekonominya akan signifikan. Oleh karena itu, solusi pembatasan sementara dinilai paling realistis.
Peninjauan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA, Plt. Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh Zulkarnaini, serta Forkopimda Kabupaten Bener Meriah. Kehadiran para pejabat ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani infrastruktur pascabencana di wilayah tersebut.
Ke depan, pemerintah akan terus memantau proses penguatan jembatan dan memastikan bahwa hasil kajian teknis dapat segera diimplementasikan. Pertanyaan yang masih menggantung adalah seberapa cepat kajian tersebut dapat diselesaikan dan apakah ada jaminan bahwa jembatan akan mampu menahan beban kendaraan berat dalam jangka panjang. Masyarakat tentu berharap agar proses ini tidak berlarut-larut sehingga akses mereka kembali normal sepenuhnya.



