Longsor Gansu Tewaskan 5 Orang, China Gelontorkan Dana Bencana Rp71 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Bencana longsor di Gansu, China, mengubur 33 warga dan menewaskan sedikitnya 5 orang.
- Pemerintah pusat China mengalokasikan 30 juta yuan untuk pemulihan infrastruktur dan layanan publik.
- Tim penyelamat masih berupaya mencari 12 korban yang dinyatakan hilang hingga sore hari.

Pemerintah China melalui Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) mengucurkan dana bantuan bencana alam senilai 30 juta yuan (setara Rp71 miliar) untuk menangani dampak longsor dahsyat yang melanda sebuah desa di Provinsi Gansu, Selasa (7/7). Insiden yang terjadi pada pukul 06.56 waktu setempat itu menimbun 33 warga di bawah timbunan material longsor.
Berdasarkan laporan otoritas setempat, longsor menerjang Desa di Kecamatan Nanhe, Kabupaten Tanchang, Kota Longnan. Hingga pukul 14.50, tim penyelamat berhasil mengevakuasi 21 orang, namun lima di antaranya dinyatakan meninggal dunia setelah mendapat perawatan. Operasi pencarian terhadap 12 korban yang masih hilang terus dilakukan secara masif.
Komisi Nasional Pencegahan, Pengurangan, dan Penanggulangan Bencana telah mengaktifkan respons darurat Level-IV, level terendah dalam sistem tanggap darurat China. Langkah ini memungkinkan mobilisasi sumber daya dan koordinasi lintas instansi secara lebih cepat. Dana yang dialokasikan akan difokuskan pada pemulihan infrastruktur dasar dan fasilitas pelayanan publik yang rusak.
Bencana longsor di Gansu ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah pegunungan China terhadap bencana geologis, terutama saat musim hujan. Meski China memiliki sistem mitigasi bencana yang terbilang maju, frekuensi dan intensitas longsor di kawasan barat laut tetap tinggi. Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat banyak daerah rawan longsor di Tanah Air, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat, yang kerap mengalami bencana serupa setiap tahun.
Menurut analis kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Andi Prasetyo, respons cepat China dalam mengalokasikan dana dan mengaktifkan sistem darurat patut dicontoh. โIndonesia perlu memperkuat pendanaan awal untuk tanggap darurat dan rehabilitasi, bukan hanya mengandalkan anggaran setelah bencana terjadi,โ ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya pemetaan zona rawan longsor berbasis data real-time untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Ke depan, efektivitas pencarian 12 korban yang masih hilang akan menjadi ujian bagi kapasitas SAR China di medan berat. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah sistem peringatan dini dan evakuasi di Gansu sudah berjalan optimal, mengingat longsor terjadi pada pagi hari saat sebagian warga mungkin masih tertidur.



