Kontrak Verstappen di Ujung Tanduk: Performa Red Bull Meredup, Juara Dunia Buka Peluang Hengkang
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen terancam hengkang dari Red Bull jika performa tim tidak membaik, dengan klausul kontrak yang memungkinkan perpisahan pada Oktober mendatang.
- Kemenangan Charles Leclerc di GP Inggris menambah ketegangan di paddock, sementara aturan safety car kembali menjadi sorotan setelah balapan berakhir di belakang mobil pengaman.
- Isack Hadjar tampil impresif sebagai rekan setim Verstappen, menunjukkan potensi sebagai solusi jangka panjang Red Bull di kursi kedua.

Max Verstappen, juara dunia Formula 1 empat kali, tengah mempertimbangkan masa depannya di Red Bull Racing setelah serangkaian hasil mengecewakan dan masalah konsistensi mobil yang tak kunjung usai. Dengan klausul performa dalam kontraknya yang bisa diaktifkan pada Oktober, spekulasi kepindahan ke tim rival seperti Mercedes, Ferrari, atau McLaren kian menguat.
Kekhawatiran Verstappen bukan tanpa alasan. Dalam dua musim terakhir, mobil Red Bull kerap mengalami masalah keseimbangan yang membuatnya sulit bersaing di puncak. Kecelakaan yang dialaminya di Silverstone pada lap 48, yang memicu finis di belakang safety car, menjadi simbol frustrasi yang dirasakan pembalap asal Belanda itu. Meski ia masih memiliki kontrak hingga 2028, klausul performa memberinya jalan keluar jika tim tidak mampu menyediakan mobil yang kompetitif.
Manajer Verstappen, Raymond Vermeulen, dan ayahnya, Jos Verstappen, dikabarkan telah menjalin komunikasi dengan sejumlah tim papan atas. Namun, keputusan akhir ada di tangan Verstappen sendiri. โDia ingin menang, dan saat ini Red Bull belum bisa memberinya kesempatan itu,โ ujar seorang sumber internal tim. Sementara itu, performa Isack Hadjar, rekan setim Verstappen di Red Bull, justru mencuri perhatian. Pembalap muda itu hanya terpaut 0,25 detik dari Verstappen dalam sesi kualifikasi, catatan terbaik sejak Daniel Ricciardo pada 2018.
Di sisi lain, kontroversi aturan safety car kembali menghangat setelah GP Inggris berakhir di belakang mobil pengaman. Banyak pihak menilai F1 seharusnya mengadopsi sistem seperti Indy 500, yang rela mengibarkan bendera merah demi memastikan balapan berakhir dalam kondisi hijau. Namun, Kepala Tim Mercedes Toto Wolff menegaskan, โPertunjukan harus mengikuti olahraga, bukan sebaliknya.โ Pembalap seperti George Russell dan Charles Leclerc juga memiliki pandangan berbeda, tergantung posisi mereka di lintasan.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, situasi ini membuka peluang besar. Jika Verstappen benar-benar hengkang, persaingan juara dunia musim depan bisa semakin terbuka. Tim-tim seperti Ferrari dan McLaren, yang tengah bangkit, akan menjadi ancaman serius bagi dominasi Red Bull. Sementara itu, performa Hadjar menunjukkan bahwa Red Bull mungkin telah menemukan solusi jangka panjang untuk kursi keduanya, mengurangi ketergantungan pada satu pembalap bintang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Red Bull mampu meyakinkan Verstappen untuk bertahan, ataukah juara dunia itu akan memulai petualangan baru di tim lain? Dengan tenggat Oktober yang semakin dekat, tekanan kini berada di pundak Christian Horner dan para insinyur Red Bull untuk membuktikan bahwa mereka masih layak menjadi rumah bagi pembalap terbaik dunia.



