Kredit Perbankan Tembus Dua Digit, Bank BUMN Pimpin Ekspansi
Baca dalam 60 detik
- Penyaluran kredit perbankan nasional pada Mei 2026 mencapai Rp8.918 triliun, tumbuh 11,51% secara tahunan, tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
- Bank-bank BUMN menjadi motor utama dengan pertumbuhan kredit 15,98% yoy, sementara kredit investasi melesat 21,95%.
- Likuiditas dan kualitas aset tetap terjaga, dengan rasio NPL gross 2,17% dan CAR 23,74%, menandakan industri masih sehat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan bahwa penyaluran kredit perbankan nasional pada Mei 2026 menembus pertumbuhan dua digit, mencapai Rp8.918 triliun atau naik 11,51% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini melampaui laju pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 9,98%, menandakan pemulihan intermediasi yang semakin solid di tengah tekanan ekonomi global.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam konferensi pers hasil rapat dewan komisioner bulanan, Selasa (7/7/2026), menyatakan bahwa kinerja intermediasi perbankan terus membaik dengan profil risiko yang terkendali. "Pertumbuhan kredit yang positif ini didorong oleh ekspansi di segmen investasi dan peran aktif bank BUMN," ujarnya.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat lonjakan tertinggi, tumbuh 21,95% secara tahunan. Sementara itu, kredit modal kerja meningkat 8,09% dan kredit konsumsi naik 5,89%. Pertumbuhan kredit UMKM juga mulai menunjukkan perbaikan, meskipun masih tipis, dari 0,16% pada April menjadi 0,60% pada Mei.
Dari sisi kelompok bank, bank-bank BUMN menjadi motor utama pertumbuhan dengan catatan 15,98% secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa peran bank pelat merah dalam menggerakkan sektor riil semakin dominan, sejalan dengan berbagai program pemerintah yang mendorong investasi dan ekspansi usaha.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga ikut menguat, mencapai Rp10.294 triliun atau tumbuh 13,47% yoy, lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang 11,39%. Kenaikan giro sebesar 20,53% menjadi penopang utama, diikuti deposito dan tabungan yang masing-masing tumbuh 10,17% dan 10,21%. Ini mengindikasikan likuiditas masyarakat yang masih melimpah, meskipun suku bunga acuan cenderung tinggi.
Kondisi likuiditas perbankan dinilai memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat 108,20%, sementara rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) berada di level 24,74%โkeduanya jauh di atas ambang batas minimum regulator. Kualitas aset pun tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,17% dan NPL net 0,84%. Rasio loan at risk (LAR) tercatat 8,72%.
Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) berada di level 2,45%, sementara capital adequacy ratio (CAR) mencapai 23,74%, menunjukkan ketahanan permodalan yang kuat. "OJK akan terus memantau industri perbankan agar tetap resilien dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," tegas Dian.
Bagi investor dan pelaku pasar, data ini menjadi sinyal positif bahwa sektor perbankan masih menjadi pilar kokoh perekonomian Indonesia. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah laju pertumbuhan ini dapat berlanjut di tengah potensi perlambatan ekonomi global dan tekanan inflasi? Semua mata kini tertuju pada kebijakan moneter dan fiskal ke depan.



