Daya Beli Tergerus, Bisnis Mobil Bekas Autopedia Tumbuh 27,5% di Semester I-2026
Baca dalam 60 detik
- PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) membukukan pendapatan Rp283,6 miliar pada semester I-2026, naik 27,5% year-on-year, ditopang segmen ritel mobil bekas yang tumbuh 50%.
- CEO ASLC Armeza Farhansyah Umar mengaitkan pertumbuhan dengan ekspansi 18 cabang melalui platform caroline.id dan pergeseran preferensi konsumen ke mobil bekas di tengah tekanan daya beli.
- Perusahaan optimistis kinerja 2026 akan melampaui capaian 2025, namun tantangan ketidakpastian global masih membayangi sektor otomotif nasional.

Di tengah gejolak ekonomi global yang belum mereda, bisnis jual beli mobil bekas justru menunjukkan kinerja yang kontras. PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC), emiten yang mengintegrasikan layanan otomotif termasuk perdagangan mobil bekas, mencatat pendapatan sebesar Rp283,6 miliar pada paruh pertama 2026. Angka ini melesat 27,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menandai bahwa sektor ini tetap menjadi primadona di saat daya beli masyarakat tertekan.
Pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh segmen ritel mobil bekas yang melonjak hingga 50% secara tahunan. CEO ASLC, Armeza Farhansyah Umar, menjelaskan bahwa ekspansi agresif melalui platform caroline.id menjadi kunci utama. Hingga saat ini, perusahaan telah mengoperasikan 18 cabang yang tersebar di berbagai kota, memudahkan konsumen mengakses kendaraan bekas berkualitas. "Kami melihat pergeseran preferensi masyarakat yang mulai beralih ke mobil bekas sebagai alternatif rasional di tengah ketidakpastian ekonomi," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
Fenomena ini tidak terlepas dari kondisi makroekonomi yang menekan daya beli kelas menengah. Kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan suku bunga kredit yang masih tinggi membuat pembelian mobil baru menjadi semakin berat. Mobil bekas, dengan harga yang lebih terjangkau dan depresiasi yang sudah berjalan, menjadi pilihan yang lebih realistis. Hal ini sejalan dengan data penjualan mobil baru nasional yang cenderung stagnan dalam beberapa kuartal terakhir.
Bagi investor dan pelaku industri otomotif di Indonesia, kinerja ASLC menjadi indikator penting. Pertumbuhan yang solid di tengah tekanan daya beli menunjukkan bahwa pasar mobil bekas memiliki daya tahan yang kuat. Namun, perlu dicatat bahwa ketidakpastian globalโseperti fluktuasi nilai tukar rupiah dan potensi resesi di negara mitra dagangโmasih menjadi ancaman. Jika tekanan ekonomi berlanjut, bukan tidak mungkin pertumbuhan ini akan melambat pada paruh kedua 2026.
Armeza optimistis bahwa perusahaan dapat mempertahankan momentum hingga akhir tahun. "Kami menargetkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan 2025," tegasnya. Strategi yang dijalankan meliputi peningkatan inventaris kendaraan, perbaikan layanan purna jual, dan perluasan jangkauan pemasaran digital. Meski demikian, analis mengingatkan bahwa keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada stabilitas ekonomi domestik dan kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah tren ini akan berlanjut atau hanya bersifat sementara. Jika daya beli masyarakat pulih lebih cepat dari perkiraan, permintaan mobil baru bisa kembali menguat dan menggeser minat ke mobil bekas. Sebaliknya, jika tekanan berlanjut, bisnis mobil bekas justru berpotensi menjadi primadona yang semakin bersinar. Bagi ASLC, kuncinya adalah tetap adaptif dan menjaga kualitas layanan di tengah persaingan yang semakin ketat.



