Kontroversi Balogun Berujung Petaka: Belgia Hajar AS 4-1 Usai FIFA Batalkan Skorsing
Baca dalam 60 detik
- FIFA menangguhkan larangan bermain Folarin Balogun selama 12 bulan, memicu protes dari Belgia, UEFA, dan pelatih Inggris Thomas Tuchel.
- Presiden AS Donald Trump mengaku meminta FIFA meninjau ulang keputusan kartu merah, yang kemudian dimanfaatkan Belgia sebagai bahan bakar kemenangan.
- Kekalahan telak AS dari Belgia memicu ejekan dari Iran dan Belgia, serta menimbulkan pertanyaan soal konsistensi regulasi disiplin FIFA.

Keputusan kontroversial FIFA yang membatalkan skorsing otomatis striker AS Folarin Balogun justru menjadi bumerang bagi tuan rumah. Belgia menghajar Amerika Serikat 4-1 dalam laga 16 besar Piala Dunia di Seattle, Selasa (9/7) WIB, setelah pemain yang sempat dianggap bakal absen itu justru tampil penuh.
Gelandang Belgia Nicolas Raskin mengungkapkan bahwa skuadnya merasa diperlakukan tidak adil. "Ada rasa ketidakadilan di tim, dan kami bertekad membalasnya di lapangan," ujar pemain Rangers itu. Kapten Youri Tielemans menambahkan bahwa insiden itu justru memacu semangat tim.
Kontroversi bermula saat Balogun mendapat kartu merah langsung karena melanggar bek Bosnia-Herzegovina, Tarik Muharemovic, pada babak sebelumnya. Aturan mewajibkan larangan bermain satu pertandingan. Namun, FIFA secara mengejutkan menangguhkan sanksi itu selama 12 bulan pada Minggu (8/7), sehari sebelum laga. Presiden AS Donald Trump mengaku telah meminta FIFA meninjau keputusan tersebut karena menurutnya pelanggaran itu tidak layak kartu merah. Trump bahkan menyebut larangan itu akan meninggalkan "noda besar" pada turnamen.
Langkah FIFA menuai kritik keras. Pelatih Inggris Thomas Tuchel menyebutnya sebagai preseden berbahaya. UEFA menegaskan bahwa intervensi semacam itu telah "melewati batas merah". Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) menyatakan "terkejut" dan mengajukan banding, namun komite FIFA menolak karena Belgia dianggap bukan pihak yang berkepentingan langsung.
Di dalam lapangan, Balogun tetap menjadi starter, namun tak mampu berbuat banyak. Belgia mendominasi sejak awal, dan kemenangan 4-1 memastikan langkah mereka ke perempat final melawan Spanyol. Pelatih Belgia Rudi Garcia menegaskan bahwa timnya fokus pada rencana permainan, bukan pada siapa yang dimainkan lawan. "Yang penting adalah kami," katanya.
Insiden ini juga memicu reaksi dari Iran, yang sebelumnya berseteru dengan AS di luar lapangan. Situs resmi Federasi Sepak Bola Iran memasang tangkapan layar hasil imbang mereka melawan Belgia di samping skor kekalahan AS, dengan pesan: "Kini seluruh dunia menari untuk kekalahan memalukan politik melawan sepak bola."
Bagi Indonesia, kontroversi ini menjadi pengingat pentingnya independensi badan sepak bola dunia. Campur tangan politik, sekecil apa pun, dapat merusak kredibilitas turnamen. Di tengah euforia sepak bola global, pertanyaan yang muncul: akankah FIFA belajar dari kasus ini, atau justru membuka celah bagi intervensi serupa di masa depan?



