Tottenham Pecahkan Rekor Transfer: Sandro Tonali Diboyong dengan Harga £100 Juta
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur resmi mendatangkan gelandang Italia Sandro Tonali dari Newcastle United dengan nilai transfer mencapai £100 juta, menjadikannya rekor klub.
- Kedatangan Tonali, yang sebelumnya dihukum larangan bermain 10 bulan karena pelanggaran taruhan, diharapkan memperkuat lini tengah Spurs yang nyaris terdegradasi musim lalu.
- Dengan pendapatan stadion baru yang melonjak, Tottenham memiliki ruang fiskal luas di bawah aturan rasio biaya skuad untuk terus berbelanja pemain mahal.

Tottenham Hotspur resmi mengamankan tanda tangan gelandang internasional Italia Sandro Tonali dari Newcastle United dengan nilai transfer yang bisa mencapai £100 juta, menjadikannya pembelian termahal dalam sejarah klub London Utara tersebut. Kesepakatan ini mengirim sinyal jelas bahwa Spurs, yang musim lalu nyaris terdegradasi, tengah membangun kembali skuad secara agresif di bawah asuhan pelatih anyar Roberto De Zerbi.
Menurut pernyataan resmi klub, Tottenham akan membayar biaya awal sebesar £92,5 juta ditambah £7,5 juta dalam bentuk bonus berdasarkan penampilan. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Mateus Fernandes, gelandang yang dibeli dari West Ham United dengan harga £85 juta pada jendela transfer yang sama. Tonali, yang bergabung dengan Newcastle dari AC Milan pada Juli 2023 seharga £55 juta, mencatatkan 79 penampilan di Premier League dan mencetak lima gol selama tiga musim bersama The Magpies.
"Saya sangat senang berada di sini," ujar Tonali dalam wawancara perdananya. "Orang-orang bilang ada empat atau lima klub yang berminat, tapi hanya satu yang saya pilih. Saya berbicara dengan pelatih kepala (De Zerbi) hampir dua jam tentang klub, penggemar, stadion, dan sepak bola kami. Rasanya seperti sihir—saya langsung tahu bahwa saya harus bergabung dengan Tottenham." Pemain berusia 26 tahun itu juga menyebut atmosfer pertandingan Spurs sebagai faktor penentu keputusannya.
Karier Tonali di Newcastle sempat terganggu oleh larangan bermain selama 10 bulan dari Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) karena melanggar aturan taruhan, tak lama setelah kepindahannya dari Italia. Namun, ia bangkit menjadi pemain kunci setelah kembali dan membantu Newcastle memenangkan Piala Carabao pada 2025—trofi pertama klub dalam 70 tahun. Dalam unggahan media sosial, Tonali mengucapkan terima kasih kepada manajer Eddie Howe, staf, dan penggemar Newcastle, menyebut kota itu "memberi saya lebih dari sekadar sepak bola."
Direktur Olahraga Tottenham, Johan Lange, memuji kualitas Tonali: "Ia memiliki kualitas teknis luar biasa yang dipadukan dengan kecerdasan sepak bola sejati, serta karakter untuk berkembang di lingkungan bertekanan tinggi." Pelatih De Zerbi, yang mengenal Tonali sejak masa mudanya di Brescia, menambahkan, "Saya sudah lama mengikutinya. Banyak klub yang tertarik, tapi ia sangat jelas ingin bergabung dengan Tottenham."
Kemampuan finansial Tottenham untuk mengeluarkan dana sebesar itu tidak lepas dari aturan baru Squad Cost Ratio (SCR) yang membatasi belanja pemain hingga 85% dari pendapatan klub. Dalam laporan keuangan terakhir (2024-25), gaji dan amortisasi Spurs hanya mencapai 61% dari pendapatan, jauh di bawah batas. Selain itu, stadion baru Tottenham yang mampu menyelenggarakan hingga 30 acara non-sepak bola per tahun telah mendongkrak pendapatan komersial dari £73 juta (White Hart Lane) menjadi £277 juta, sementara pendapatan hari pertandingan melonjak dari £45 juta menjadi £126 juta.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, langkah Tottenham ini menarik untuk dicermati. Klub-klub Premier League semakin agresif memanfaatkan aturan keuangan baru untuk merekrut bintang, dan hal ini berpotensi meningkatkan daya tarik liga di pasar Asia, termasuk Indonesia yang memiliki basis penggemar besar. Namun, belanja besar juga membawa risiko: jika performa di lapangan tidak sebanding dengan investasi, tekanan terhadap De Zerbi bisa menjadi sangat besar. Pertanyaan besarnya: akankah Tonali menjadi kunci kebangkitan Spurs, atau justru menjadi beban finansial jika gagal beradaptasi?



