Mimpi Amerika Hancur: Belgia Hajar Tuan Rumah 4-1, Masa Depan Pochettino di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Amerika Serikat tersingkir dari Piala Dunia setelah dihancurkan Belgia 4-1 di babak 16 besar, kekalahan terburuk mereka sejak 1990.
- Kontroversi keputusan FIFA yang membatalkan skorsing Folarin Balogun diduga mengganggu konsentrasi tim, meski pelatih membantahnya.
- Kekalahan ini memicu tanda tanya besar soal masa depan pelatih Mauricio Pochettino yang kontraknya habis, serta kemajuan sepak bola AS secara keseluruhan.

Pesta besar Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia berakhir dengan mimpi buruk. Belgia mempermalukan AS dengan skor telak 4-1 di Seattle Stadium, Selasa dini hari, memupus harapan publik Negeri Paman Sam untuk pertama kalinya menjuarai turnamen paling bergengsi di dunia. Kekalahan ini sekaligus menjadi yang terburuk bagi AS sejak 1990.
Suasana yang semula meriah dengan kembang api, suar, dan flyover militer berubah hening. Ribuan suporter mulai meninggalkan stadion setelah gol keempat Belgia, jauh sebelum peluit panjang dibunyikan. Kekalahan ini menambah panjang daftar kegagalan tim tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko yang juga tersingkir di babak 16 besar.
Namun, di balik kekalahan telak itu, ada satu isu yang mendominasi pemberitaan selama dua hari terakhir: keputusan kontroversial FIFA yang membatalkan skorsing satu pertandingan untuk striker Folarin Balogun. Kartu merah langsung yang diterima Balogun pada laga sebelumnya sempat membuatnya terancam absen, tetapi FIFA memutuskan menunda hukuman tersebut selama 12 bulan. Keputusan ini menuai kritik luas, termasuk dari Presiden UEFA, pelatih Belgia, dan manajer Inggris Thomas Tuchel.
Bahkan Presiden AS Donald Trump ikut campur dengan meminta FIFA meninjau ulang keputusan itu, dengan alasan ia menilai pelanggaran Balogun bukanlah pelanggaran keras. Kontroversi ini membuat Balogun menjadi sorotan utama, dan meskipun ia tetap dimainkan sejak awal, performanya di lapangan jauh dari kata memuaskan.
Pelatih AS, Mauricio Pochettino, dengan tegas membantah bahwa kontroversi Balogun mempengaruhi performa tim. "Itu bukan alasan. Bukan hari kami," ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan. Namun, ia juga mengungkapkan kekecewaan pribadinya terhadap banyak pihak yang menurutnya lebih mementingkan politik dan manipulasi daripada etika. "Saya kecewa secara pribadi," tambahnya.
Pelatih Belgia, Rudi Garcia, mengaku berbicara langsung dengan Balogun setelah laga. "Ini bukan salahnya, dia bukan yang harus disalahkan. Itu yang saya katakan padanya," ungkap Garcia. Sikap Garcia menunjukkan bahwa kontroversi di luar lapangan memang membayangi pertandingan ini.
Terlepas dari isu Balogun, kelemahan terbesar AS justru terletak pada lini belakang. Charles De Ketelaere menjadi mimpi buruk bagi pertahanan AS dengan mencetak dua gol, termasuk gol pembuka yang ia lesakkan tanpa pengawalan. Gol ketiga Belgia menjadi yang paling kacau: kiper AS, Matt Freese, gagal mengantisipasi bola di luar kotak penalti, sehingga Hans Vanaken dengan mudah menembak ke gawang kosong. Romelu Lukaku menutup pesta Belgia dengan gol di masa injury time.
"Tidak ada kemauan untuk merebut bola," keluh seorang suporter AS kecewa. "Tidak ada semangat, sepak bola hari ini tidak hidup."
Kekalahan ini memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan sepak bola AS. Meskipun antusiasme masyarakat sempat melonjak selama turnamen, dengan fan zone dan bar penuh sesak, masih ada pekerjaan rumah besar untuk membangun budaya sepak bola yang mapan. Gelandang AS, Tyler Adams, mencoba optimis: "Ini bukan cerminan langsung dari apa yang kami coba raih. Jika kami menginspirasi beberapa anak, maka kami telah melakukan sesuatu yang benar."
Ketidakpastian juga menyelimuti masa depan Pochettino. Kontrak pelatih asal Argentina itu habis setelah Piala Dunia. Ia enggan memberikan petunjuk soal langkah selanjutnya. "Sekarang waktunya istirahat, berpikir, dan berbicara dengan federasi. Dalam beberapa pekan ke depan kita bisa mulai bicara," katanya. Akankah federasi mempertahankannya? Atau justru mencari wajah baru untuk membangun kembali tim? Jawabannya masih menggantung.



