Australia Hancurkan Inggris, Rebut Gelar Ketujuh Piala Dunia T20 Wanita
Baca dalam 60 detik
- Australia mengalahkan Inggris dengan selisih tujuh wicket di final Piala Dunia T20 wanita, menambah koleksi gelar mereka menjadi tujuh.
- Penampilan gemilang Beth Mooney (64) dan Phoebe Litchfield (48) menjadi kunci keberhasilan Australia mengejar target 151 dengan 17 bola tersisa.
- Kekalahan ini menegaskan dominasi Australia atas Inggris di kriket wanita, setelah sebelumnya unggul 16-0 di The Ashes.

Australia kembali menunjukkan superioritasnya di kriket wanita dengan menghancurkan Inggris pada final Piala Dunia T20 di Lord's, London, Minggu (5/7). Tim asuhan Meg Lanning menang telak tujuh wicket, sekaligus mengamankan gelar ketujuh mereka di ajang bergengsi tersebut.
Kemenangan ini tidak lepas dari kerja sama apik antara Beth Mooney dan Phoebe Litchfield di lini kedua. Keduanya membangun kemitraan 100 run yang membuat Australia dengan mudah mengejar target 151 run yang ditetapkan Inggris. Mooney, yang dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen, mencetak 64 run dari 49 bola, sementara Litchfield menyumbang 48 run dari 35 bola.
Inggris sebenarnya tampil cukup solid dengan total 150-4 berkat kemitraan tak terputus 80 run antara kapten Nat Sciver-Brunt (58) dan Freya Kemp (44). Namun, awal yang lambat membuat mereka tertinggal jauh. Australia berhasil menekan Inggris hingga hanya mencetak 39-2 dalam enam over pertama, dengan Lucy Hamilton dan Annabel Sutherland tampil impresif.
Bagi Indonesia, dominasi Australia di kriket wanita bisa menjadi pelajaran berharga. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, prestasi Australia menunjukkan pentingnya pembinaan usia dini dan kompetisi berjenjang. Timnas kriket putri Indonesia, yang masih dalam tahap pengembangan, dapat mencontoh etos kerja dan strategi Australia yang agresif sejak awal pertandingan.
Pelatih Inggris, Charlotte Edwards, mengakui keunggulan Australia. "Mereka telah memimpin selama bertahun-tahun. Anda harus tampil terbaik untuk mengalahkan mereka, dan kami tidak melakukannya. Itulah mengapa mereka mengangkat trofi sekarang," ujarnya. Edwards menambahkan bahwa timnya tidak boleh berkecil hati karena Australia adalah tim yang sangat kuat.
Kontroversi sempat mewarnai pertandingan saat tangkapan Sophie Ecclestone dinyatakan tidak sah oleh wasit TV, memberi nyawa kedua bagi Ellyse Perry. Namun, insiden itu tidak mengubah hasil akhir. Kemenangan Australia ditutup dengan empat wide dari lemparan Ecclestone yang melenceng, menggambarkan hari yang sulit bagi Inggris.
Ke depan, dominasi Australia tampaknya akan berlanjut. Dengan skuad yang solid dan regenerasi pemain yang berjalan mulus, mereka menjadi favorit di setiap turnamen. Pertanyaannya, mampukah tim lain seperti Inggris atau India mengejar ketertinggalan? Atau akankah Australia terus mendominasi kriket wanita dalam beberapa tahun ke depan?



