Paraguay Pulang dengan Kepala Tegak: Grit dan 'Dark Arts' Hentikan Langkah di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Paraguay tersingkir di babak 16 besar setelah kalah tipis dari Prancis, namun sukses menumbangkan Jerman di fase grup.
- Tim asuhan Gustavo Alfaro mengandalkan pertahanan rapat, penguasaan bola rendah, dan taktik fisik yang kontroversial untuk melawan tim unggulan.
- Performa mereka menjadi studi kasus tentang efektivitas strategi underdog, sekaligus memicu perdebatan etika dalam sepak bola modern.

Paraguay harus mengakhiri petualangan manis mereka di Piala Dunia 2026 setelah takluk 0-1 dari Prancis di babak 16 besar, namun perjalanan tim asuhan Gustavo Alfaro meninggalkan kesan mendalam sebagai representasi sempurna dari semangat underdog yang pantang menyerah. Kekalahan di Philadelphia itu tidak mengurangi pencapaian luar biasa Paraguay yang untuk pertama kalinya dalam 16 tahun terakhir mampu melaju hingga fase gugur, bahkan sebelumnya menyingkirkan Jerman melalui adu penalti.
Kunci keberhasilan Paraguay terletak pada disiplin pertahanan yang luar biasa. Sepanjang turnamen, mereka menjadi tim dengan rata-rata penguasaan bola terendah, namun justru dari situasi itulah mereka membangun kepercayaan diri. Setelah dihajar tuan rumah Amerika Serikat di fase grup, Paraguay bangkit dengan formasi kompak yang membuat lawan frustrasi. Penampilan gemilang kiper Orlando Gill menjadi fondasi utama, ditambah lini belakang yang terorganisir rapi dan lini tengah yang pekerja keras.
Melawan Prancis, strategi yang sama kembali diterapkan. Selama lebih dari 60 menit, Paraguay mampu meredam agresivitas Kylian Mbappe dkk. meskipun Les Bleus menguasai lebih dari 75 persen penguasaan bola. Namun, keberuntungan berpihak pada Prancis setelah wasit menganulir keputusan awal dan memberikan penalti melalui bantuan VAR. Mbappe yang menjadi algojo sukses menjalankan tugasnya, sekaligus memupus harapan Paraguay untuk melanjutkan mimpi.
Namun, sisi lain dari permainan Paraguay yang menuai sorotan adalah penggunaan 'dark arts' atau taktik licik untuk mengganggu ritme lawan. Bek Gustavo Velazquez kedapatan menggocek titik penalti sebelum tendangan Mbappe, sebuah aksi yang memicu kemarahan mantan kiper Inggris Joe Hart. "Jika saya jadi Gill, saya akan merobek kausnya sendiri. Itu menjijikkan!" ujar Hart di BBC. Pelatih Prancis Didier Deschamps juga mengeluhkan kepemimpinan wasit yang dinilai tidak seimbang, meski ia mengakui kedua tim sama-sama melakukan banyak pelanggaran.
Terlepas dari kontroversi, pencapaian Paraguay patut diacungi jempol. Bagi negara yang berjuang keras untuk kembali ke panggung sepak bola dunia, menaklukkan Jerman dan memberikan perlawanan sengit kepada Prancis adalah prestasi yang melampaui ekspektasi. Pelatih Gustavo Alfaro menegaskan, "Butuh 16 tahun bagi kami untuk kembali ke Piala Dunia. Kami bekerja keras untuk hasil yang berbeda, tetapi saya pergi dengan keyakinan bahwa kami datang untuk bersaing dan kami benar-benar bersaing."
Bagi Indonesia, perjalanan Paraguay ini bisa menjadi refleksi tentang bagaimana tim yang dianggap lemah bisa bersaing dengan mengoptimalkan strategi dan semangat juang. Di tengah dominasi sepak bola Eropa dan Amerika Selatan, pendekatan pragmatis ala Paraguay membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya soal penguasaan bola, melainkan juga soal efektivitas dan ketangguhan mental. Pertanyaan selanjutnya: akankah pendekatan serupa diadopsi oleh tim-tim Asia seperti Indonesia di ajang internasional mendatang?



