Inter dan Como Sepakati Gencatan Senjata di Bursa Transfer: Akhir Perang Harga?
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan dan Como mencapai kesepakatan lisan untuk tidak saling menaikkan harga saat memburu pemain yang sama di bursa transfer.
- Kesepakatan ini dipicu oleh persaingan sengit memperebutkan Trevoh Chalobah (Chelsea) dan Anan Khalaili (Union SG) yang sempat memanas.
- Jika berhasil, gencatan senjata ini bisa menjadi preseden baru dalam diplomasi antarklub Serie A yang selama ini kerap terlibat perang penawaran.

Persaingan dua klub sekota di bursa transfer seringkali berujung pada perang harga yang merugikan kedua belah pihak. Namun, Inter Milan dan Como tampaknya memilih jalan berbeda. Dilaporkan, kedua klub yang sama-sama lolos ke Liga Champions musim depan ini telah mencapai kesepakatan lisan untuk tidak saling mengerek harga saat memburu pemain incaran yang sama.
Kesepakatan yang dijuluki "pakta non-agresi" ini muncul setelah kedua klub bentrok dalam perebutan beberapa target, termasuk bek Chelsea Trevoh Chalobah dan gelandang Union SG Anan Khalaili. Menurut La Gazzetta dello Sport, Presiden Como Mirwan Suwarso dan Presiden Inter Beppe Marotta melakukan pembicaraan telepon pada hari Selasa untuk merumuskan kesepakatan tersebut.
Inti dari pakta ini sederhana: jika salah satu klub memutuskan untuk meningkatkan upaya mendapatkan seorang pemain, klub lainnya akan mundur dan beralih ke target alternatif. Misalnya, jika Inter serius mengejar Chalobah, Como akan mundur dan mengincar bek Galatasaray Davinson Sanchez. Sebaliknya, untuk Khalaili yang menjadi prioritas Inter setelah menjual Denzel Dumfries ke Real Madrid dan gagal mendapatkan Marco Palestra dari Chelsea, Como akan memberikan jalan.
Langkah ini menunjukkan perubahan pendekatan di bursa transfer Serie A. Selama ini, persaingan antarklub Italia seringkali berujung pada perang penawaran yang menguntungkan klub penjual. Dengan adanya pakta ini, Inter dan Como berharap dapat menghemat biaya dan menghindari inflasi harga yang tidak perlu.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kesepakatan ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa mulai menerapkan strategi bisnis yang lebih rasional. Di tengah ketatnya regulasi Financial Fair Play, kerja sama semacam ini bisa menjadi kunci untuk menjaga stabilitas keuangan klub. Apakah langkah ini akan diikuti oleh klub-klub lain di Italia? Atau justru akan memicu kritik karena dianggap membatasi persaingan sehat? Yang jelas, bursa transfer musim panas ini akan menjadi ujian bagi efektivitas "gencatan senjata" Inter dan Como.



