Amorim Buka Suara: Pelajaran dari Manchester United, Hormati Allegri, dan Bantah Gaya Mourinho
Baca dalam 60 detik
- Ruben Amorim resmi diperkenalkan sebagai pelatih baru AC Milan, menggantikan Max Allegri yang dipecat musim lalu.
- Pelatih asal Portugal itu mengakui kesalahan selama di Manchester United dan berjanji membawa filosofi sepak bola menyerang ke San Siro.
- Amorim menegaskan dirinya berbeda dari Jose Mourinho, meski tetap menghormati rekan senegaranya yang sukses di Italia.

Ruben Amorim, pelatih anyar AC Milan, memulai babak baru kariernya dengan nada introspektif. Dalam konferensi pers perdananya, ia menyampaikan permintaan maaf kepada pendukung Manchester United atas kegagalannya di Old Trafford, sembari menegaskan bahwa dirinya bukanlah tiruan Jose Mourinho.
Pelatih berusia 41 tahun itu dipecat Manchester United pada Januari lalu setelah hanya bertahan semusim. Kini, ia dipercaya menukangi Milan yang musim lalu gagal lolos ke Liga Champions. Amorim mengakui bahwa masa singkatnya di Inggris memberinya banyak pelajaran berharga. "Saya melakukan beberapa kesalahan, tetapi konteksnya rumit. Yang jelas, saya belajar banyak dan akan menjadi pelatih yang lebih baik," ujarnya.
Amorim menggantikan Max Allegri yang dipecat sehari setelah Milan gagal mengamankan tiket ke Liga Champions musim lalu. Pemilik Milan, Gerry Cardinale, sempat mengkritik gaya bermain Allegri yang dianggap terlalu defensif. Cardinale menginginkan sepak bola agresif dan menghibur, alasan ia memilih Amorim. Namun, Amorim enggan memperkeruh suasana. "Saya sangat menghormati Allegri. Saya tidak akan membicarakan masa lalu, tetapi saya bisa menjelaskan bagaimana saya ingin tim ini bermain," katanya.
Filosofi Amorim jelas: penguasaan bola, pressing cepat, dan sepak bola menghibur. "Kami ingin merebut bola secepat mungkin, mendominasi lawan, dan menghibur penggemar. Saat melatih tim besar, Anda tidak bisa lari dari kenyataan bahwa hasil akhir adalah kemenangan. Hasil imbang seperti kekalahan," tegasnya. Gaya ini kontras dengan pendahulunya, Paulo Fonseca dan Sergio Conceicao, yang gagal menerapkan ide mereka di Milan.
Ketika disinggung soal kemiripan dengan Mourinho yang sukses membawa Inter Milan meraih treble pada 2010, Amorim dengan tegas membantah. "Saya sangat berbeda dengan Jose Mourinho. Saya belajar banyak darinya, tetapi sebagai pelatih Anda harus mengikuti kepribadian sendiri, tidak bisa meniru orang lain. Saya memiliki gaya bermain yang berbeda. Satu-satunya kesamaan yang saya inginkan adalah meraih kemenangan seperti yang ia lakukan di Italia," ucapnya.
Amorim juga mengakui bahwa kegagalan di Manchester United membuatnya lebih dewasa. "Saya belajar dari semua kesalahan yang saya buat di Manchester. Saya akan memperbaiki detail-detail kecil untuk membantu pemain saya tampil lebih baik. Saya berharap bisa memenangkan lebih banyak pertandingan daripada hasil imbang. Saya tidak akan bicara soal kekalahan, karena komunikasi akan mudah jika kami terus menang," pungkasnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Amorim menjadi pengingat bahwa adaptasi di liga baru tidak pernah mudah. Pelatih asal Portugal ini kini mendapat kesempatan kedua di panggung elite Eropa. Pertanyaannya, mampukah ia membawa Milan kembali ke puncak kejayaan, atau justru mengulang kegagalan seperti di Manchester? Hanya waktu yang bisa menjawab.



