Xi Jinping Tegaskan Komitmen Perkuat Hubungan Stabil dengan Korea Utara
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan Kim Jong Un untuk menjaga hubungan bilateral yang stabil dan jangka panjang.
- Pesan Xi merupakan balasan atas surat Kim yang menyebut pertemuan mereka di Pyongyang sebagai momen bersejarah.
- Di tengah meningkatnya kerja sama militer Korut-Rusia, China tetap menjadi mitra dagang utama dengan pangsa 98% perdagangan luar negeri Korut.

Presiden China Xi Jinping menegaskan komitmennya untuk membawa hubungan bilateral dengan Korea Utara menuju perkembangan yang stabil, sehat, dan berjangka panjang. Pernyataan itu disampaikan dalam pesan yang dikirimkan kepada pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada 1 Juli lalu, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi Korut, KCNA, Minggu (5/7).
Pesan Xi merupakan balasan atas surat Kim yang sebelumnya mengucapkan selamat atas peringatan 105 tahun berdirinya Partai Komunis China. Dalam suratnya, Kim menyebut pertemuan puncak mereka di Pyongyang pada Juni lalu sebagai "peristiwa bersejarah" dan menegaskan bahwa memperkuat hubungan dengan Beijing adalah sikap teguh Pyongyang.
Xi mengapresiasi sambutan hangat dan bersahabat yang diterimanya selama kunjungan kenegaraan ke Pyongyang. Ia juga menekankan bahwa Partai Komunis China dan Partai Buruh Korea adalah partai-partai Marxis yang berkuasa, yang telah bersama-sama berjuang untuk kemerdekaan nasional dan memajukan kausa sosialis lintas generasi.
Pertukaran pesan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea dan meluasnya kerja sama militer Pyongyang dengan Moskow. Korea Utara telah mengirimkan pasukan dan amunisi untuk mendukung invasi Rusia ke Ukraina, sebuah langkah yang mendapat kecaman internasional. Meskipun demikian, China tetap menjadi mitra ekonomi terbesar Korut, dengan pangsa perdagangan yang hampir monopolistik.
Bagi Indonesia, dinamika hubungan China-Korut memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang aktif dalam forum regional seperti ASEAN dan kerap menyuarakan denuklirisasi Semenanjung Korea, Jakarta perlu mencermati bagaimana poros Beijing-Pyongyang-Moskow dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Asia Timur. Peningkatan kerja sama militer Korut-Rusia juga berpotensi memicu perlombaan senjata yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.
Para analis menilai bahwa meskipun China dan Korea Utara sama-sama menganut ideologi Marxis, hubungan keduanya lebih didorong oleh kepentingan pragmatis. China membutuhkan Korut sebagai buffer zone terhadap pengaruh AS dan sekutunya, sementara Korut bergantung pada China untuk bertahan dari sanksi internasional. Namun, kerja sama Korut dengan Rusia yang semakin erat dapat menguji kesabaran Beijing, terutama jika hal itu mengancam kepentingan strategis China di kawasan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah China akan terus mendukung Korut meskipun Pyongyang semakin mendekat ke Moskow, atau justru berusaha menahan laju kerja sama militer tersebut. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat pentingnya diplomasi aktif untuk menjaga stabilitas regional dan mencegah eskalasi konflik yang dapat berdampak pada keamanan dan ekonomi nasional.



