Pemasok Rudal Minta Negosiasi Klaim Rp3,3 Triliun, Malaysia Waspada
Baca dalam 60 detik
- Kongsberg Defence & Aerospace mengajukan diskusi atas klaim Malaysia senilai RM1,06 miliar terkait pembatalan kontrak rudal NSM.
- Kementerian Pertahanan Malaysia membentuk tim evaluasi untuk memilih sistem rudal pengganti dari empat negara, termasuk Turki dan Korea Selatan.
- Pembatalan kontrak oleh Norwegia memicu klaim langsung dan tidak langsung, serta mendorong percepatan pengadaan rudal baru untuk kapal LCS.

Kementerian Pertahanan Malaysia mengonfirmasi bahwa pemasok rudal Naval Strike Missile (NSM), Kongsberg Defence & Aerospace, telah meminta pertemuan untuk membahas klaim senilai RM1,06 miliar (sekitar Rp3,3 triliun) yang diajukan akibat pembatalan kontrak pengadaan untuk Angkatan Laut. Namun, Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin menegaskan bahwa pihaknya akan bersikap hati-hati terhadap kemungkinan negosiasi digunakan sebagai taktik untuk memperlambat proses klaim.
"Kami selalu waspada terhadap segala bentuk taktik semacam itu agar tidak terperangkap," ujar Khaled usai menghadiri program keagamaan di Felda Air Tawar 2, Kota Tinggi, pada Minggu (5/7). Pernyataan ini muncul setelah pemerintah Norwegia mencabut izin ekspor rudal anti-kapal NSM beserta sistem peluncurannya dengan alasan keamanan, yang memicu pembatalan kontrak bernilai EUR124 juta (RM571,9 juta) yang ditandatangani pada April 2018.
Malaysia mengajukan klaim sebesar RM1,06 miliar yang terdiri dari klaim langsung EUR129,86 juta (RM604 juta) untuk pembayaran yang telah dilakukan, ditambah klaim tidak langsung EUR96,26 juta (RM448,12 juta) yang mencakup biaya dampak dan efek domino dari gagalnya pasokan. Jumlah ini jauh melampaui nilai kontrak awal, menunjukkan kerugian signifikan yang diderita Malaysia akibat keputusan sepihak Norwegia.
Dalam perkembangan terpisah, Khaled mengungkapkan bahwa tim evaluasi yang terdiri dari perwira angkatan laut telah dibentuk untuk mengidentifikasi sistem rudal terbaik dari empat negara sebagai pengganti rudal buatan Norwegia. "Ya, prosesnya berjalan, dan kami ingin evaluasi selesai secepat mungkin," katanya singkat. Sebelumnya, pada 28 Juni, ia menyebutkan bahwa empat negara kandidat telah diidentifikasi, termasuk Turki dan Korea Selatan, serta dua negara Eropa lainnya.
Proses seleksi tidak hanya mempertimbangkan spesifikasi dasar, tetapi juga kriteria kunci lainnya untuk memastikan sistem yang dipilih memenuhi kebutuhan operasional Angkatan Laut Malaysia. Langkah ini menunjukkan urgensi Malaysia untuk memperkuat pertahanan maritim di tengah ketidakpastian pasokan rudal dari Norwegia. Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat persaingan di kawasan dan pentingnya kemandirian alutsista. Malaysia yang merupakan tetangga dekat dan mitra strategis di ASEAN kini menghadapi tantangan serupa dengan Indonesia dalam hal ketergantungan pada pemasok asing untuk sistem persenjataan canggih.
Ke depan, keputusan Malaysia dalam memilih rudal pengganti akan menjadi sorotan, terutama jika memilih Turki atau Korea Selatan yang juga aktif menjalin kerja sama pertahanan dengan Indonesia. Pertanyaannya, apakah klaim sebesar RM1,06 miliar akan dibayar penuh oleh Kongsberg, atau justru menjadi batu sandungan baru dalam hubungan bilateral Malaysia-Norwegia?



